Minggu, 17 Februari 2013

makalah kimia




A.    TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu :
Mempelajari tes-tes yang digunakan untuk mengidentifikasi unsur penyusun senyawa tersebut.
Mengamati beberapa sifat dasar antara senyawa organik dan anorganik.
B.       LANDASAN TEORI
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecualikarbidakarbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Di antara beberapa golongan senyawaan organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya; http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hidrokarbon_aromatik&action=edit&redlink=1″>hidrokarbon aromatik, senyawaan yang mengandung paling tidak satu cincin benzenasenyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom nonkarbon dalam struktur cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang. Pembeda antara kimia organik dan anorganik adalah ada/tidaknya ikatan karbon-hidrogen. Sehingga, asam karbonat termasuk anorganik, sedangkan asam formatasam lemak pertama, organik (Siregar, 2012).
Bahan organik dihasilkan oleh tumbuhan melalui proses fotosintesis, sehingga unsur karbon merupakan penyusun utama dari bahan organik tersebut yang berada dalam bentuk senyawa polisacharida, seperti sellulosa, hemi-sellulosa, pati serta bahan pektin dan lignin. Selain itu beberapa bahan organik tanah juga mengandung protein dan beberapa senyawa nitrogen lain. Bahan organik secara umum dibedakan atas bahan organik yang relatif sukar didekomposisi karena disusun oleh senyawa siklik yang sukar diputus atau dirombak menjadi senyawa yang lebih sederhana, termasuk di dalamnya adalah bahan organik yang mengandung senyawa lignin, minyak, lemak dan resin yang umumnya ditemui pada jaringan tumbuh-tumbuhan; dan bahan organik yang mudah didekomposisikan karena disusun oleh senyawa sederhana yang terdiri dari C, H dan O, termasuk di dalamnya adalah senyawa dari sellulosa, pati, gula dan senyawa protein (Lestari, 2009).
Perbedaan antara senyawa organik dengan senyawa anorganik (Siregar, 2012)
No
Senyawa organik
Senyawa Anorganik
1
Kebanyakan berasal dari makhluk hidup dan beberapa dari hasil sintesis
Berasal dari sumber daya alam mineral ( bukan makhluk hidup)
2
Senyawa organik lebih mudah terbakar, dan memberikan hasil akhir CO2, H2O, dan hasil sampingan lainnya.
Tidak mudah terbakar
3
Strukturnya lebih rumit
Struktur sederhana
4
Semua senyawa organik mengandung unsur karbon
Tidak semua senyawa anorganik yang memiliki unsur karbon
5
Hanya dapat larut dalam pelarut organik
Dapat larut dalam pelarut air atau organik
6
CH4, C2H5OH, C2H6 dsb.
NaF, NaCl, NaBr, NaI dsb.
7
Umumnya bersifat non-elektrolit
Umumnya bersifat elektrolit (konduktor listrik dalam larutannya)
8
Reaksi berlangsung lambat
Reaksi berlangsung cepat
9
Titik didih dan titik lebur rendah
Titik didih dan titik lebur tinggi
Bila bahan biologis dibakar, semua senyawa organik akan rusak; sebagian besar karbon berubah menjadi gas karbon dioksida (CO2), hidrogen menjadi uap air, dan nitrogen menjadi uap nitrogen (N2). Sebagian besar mineral akan tertinggal dalam bentuk abu dalam bentuk senyawa anorganik sederhana, serta akan terjadi penggabungan antarindividu atau dengan oksigen sehingga terbentuk garam anorganik (Arifin, 2008).
Karbon atau arang mmerupakan suatu padatan berpori yang mengandung 85% sampai 95% karbon, dihasilkan dari bahan-bahan yang mnegandung karbon dengan pemanasan pada suhu tinggi. Ketika pemanasan berlangsung, diusahakan agar tidak terjadi kebocoran udara di dalam ruang pemanasan sehingga bahan yang mengandung karbon tersebut hanya terkarbonisasi dan tidak teroksidasi (Darmawan, 2008).
Alkohol R-OH dapat dianggap hidrolisis dari alkana R-H, maupun sebagai turunan alkali dari air H-OH. Sebagai turunan alkanan maupun air, sifat alkohol dapat menyerupai sifat air karena keasaan gugus fungsi keduanya (Anonim, 2012). Alkohol mengandung suatu oksigen sp3 dengan dua elektron valensi menyendiri, dimana senyawa ini bersifat polar (Fessenden, 1982).
Etanol merupakan zat cair, tidak berwarna, berbau spesifik, mudah terbakar dan menguap, dapat bercampur dalam air dengan segala perbandingan. Secara garis besar penggunaan etanol adalah sebagai pelarut untuk zat organik maupun anorganik, bahan dasar industri asam cuka, ester, spirtus, asetaldehid, antiseptik dan sebagai bahan baku pembuataneter danetil ester,Etanol juga untuk campuran minuman dan dapat digunakan sebagai bahan  bakar (gasohol) (Wiratmaja, 2011).
Ikatan hidrogen dapat membentuk fase baru dan menghasilkan suatu senyawa baru dalam ikatannya dengan atom lain seperti atom C, N, O, maupun ikatannya dengan atom hidrogen sendiri, antara lain dalam pembentukan benzena, air(es), amoniak dan lain-lain. Pada ikatan hidrogen tersebut terdapat karakteristik proton penyusun atomnya, yaitu gerakan-gerakan dinamis proton dalam ikatan tersebut dapat dipelajari dengan mengkaji persamaan gerak proton dalam ikatan sehingga dapat diketahui perilaku proton dalam keadaan tertentu. Ikatan hidrogen dalam molekul H2O merupakan ikatan kovalen, kajian kepadanya diperlukan untuk mengetahui bagaimana keadaan ideal dari molekul tersebut (Kurniawan, 2005).
C.      URAIAN BAHAN
a)      Akuades (FI.Ed.III hal. 96).
Nama Resmi             : Aqua destilata.
Nama Lain    : air suling
Rumus Molekul        : H2O
Berat molekul           : 18
Rumus Bangun         :
Pemerian                   : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak  berbau, tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan            : dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan                  : sebagai pelarut.
b)     NaCl (FI.Ed.III hal. 403).
Nama Resmi                         : Natrium Chloridum
Nama Lain                : Natrium klorida
Berat Molekul           : 32.04 g/mol
Rumus Molekul        : NaCl
Rumus Bangun         :
Pemerian                   : Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur      putih; rasa asin.
Kelarutan           : Mudah larut dalam air; sedikit lebih mudah larut dalam air mendidih; larut dalam gliserin; sukar larut dalam etano
Penyimpanan      : Dalam Wadah Tertutup baik
Khasiat               : Hemodialisis
Kegunaan           : Sebagai Sampel
c)      AgNO3 (FI. Ed III, hal.
Nama Resmi            : Argenti Nitras
Nama Lain                : Perak nitrat
Berat molekul           : 168,87 g/mol
Rumus Molekul        : AgNO3
Pemerian                   : hablur transparan atau serbuk hablur berwarna putih, tidak berbau dan menjadi gelap jika kena cahaya
Kelarutan                  : sangat mudah larut dalam air dan dalam etanol (95%)
Kegunaan                  : sebagai larutan baku
d)     Etanol
Nama Resmi                         : Etil Alkohol / etanol
Nama Lain                : Etil alkohol; hidroksietana; alkohol; etil hidrat; alkohol absolut
Berat molekul           : 46,07 g/mol
Rumus Molekul        : C2H5OH
Rumus Bangun         :
Pemerian                   : cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari
Kegunaan                  : sebagai pelarut.
e)      Kloroform
Nama                        : Chloroformum
Nama lain                  : kloroform
Berat molekul           : 119,38 g/mol
Rumus molekul         : CHCl3
Rumus bangun          :
Pemerian                   : cairan, mudah menguap; tidak berwarna; bau khas; rasa manis dan membakar.
Kelarutan                  : larut dalam lebih kurang 200 bagian air; mudah larut dalam etanol mutlak, dalam eter, dalam sebagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam minyak lemak.
Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup baik bersumbat kaccca, terlindung dari cahaya.
Khasiat                      : pengawet dan zat tambahan
Kegunaan                  : pereaksi
f)       KI (FI. Ed. III hal. 330).
Nama resmi               : Kalii iodidum
Nama lain                  : Kalium Iodida
BM / RM                  : 166,00 g/mol
Rumus molekul         : KI
Rumus bangun          :
Pemerian                   : transparan atau tidka berwarna, opak dan putih; atau serbuk butiran putih. Higroskopis.
Kelarutan              : sangat mudah larut dalam air, lebih mudha larut dalam air mendiidh; larut dalam etanol (95%); mudah larut dalam gliserol.
Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan                  : sebagai bahan uji
g)      Glukosa (FI. Ed. III hal.268)
Nama resmi               : Glucosum
Nama lain                  : Glukosa
BM / RM                  : 198,17 g/mol
Rumus molekul         : C6H12O6
Rumus bangun          :
Pemerian                   : hablur tidak berwarna, serbuk halus atau butiran putih; tidak berbau; rasa manis.
Kelarutan                  : mudah larut dalam air; sangat mudah larut dalam air mendidih; agak sukar larut dalam etanol (95%) mendidih; sukar larut dalam etanol (95%).
Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan                  : sebagai bahan uji
h)     HCl
Nama resmi               : Acidum Hydrochloridum
Nama lain                  : Asam klorida
BM / RM                  : 36,46 g/mol
Rumus molekul         : HCl
Rumus bangun          :
Pemerian                   : cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang. Jika diencerkan dengan 2 bagian air, asao dan bau hilang.
Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan                  : sebagai bahan uji


D.      METODE KERJA
1.        Alat dan Bahan
a)      Alat.
Alat yang digunakan, yaitu :
-          Tabung reaksi
-          Pipet tetes
-          Pemanas bunsen
-          Hotplate
-          Gelas kimia
-          Cawan krus
-          Kawat tembaga
b)      Bahan.
Bahan yang digunakan, yaitu :
-          NaCl
-          Kloroform
-          Etanol
-          Ag NO3
-          Air es
-          HCl
-          KI
-          Glukosa
-          Air Liur
2.      Prosedur Kerja
Deteksi unsur-unsur dengan pembakaran senyawa organik
2 ml etanol

-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam cawan krus
-          Dibakar
-

Hasil..?

Air es

-          Dimasukan kedalam gelas kimia kering
-          Disimpan diatas pembakaran etanol
-          Diamati
Tes Beilstein
HCl 3 M

-          Dimasukan ke tabung
-          Dimasukan kawat tembaga yang telah dipanaskan pada pemanas bunsen sebelumnya
-          Diamati
-          Langkah-langkah uji diatas diulangi untuk larutan CHCl3, KI dan air ludah

Hasil..?
Perbedaan sifat karena pemanasan.
NaCl

-          Dimasukan ke cawan krus
-          Dipanaskan
-          Diamati
-          Tahap uji diulangi untuk bahan glukosa

Hasil..?
Perbedaan dalam ionisasi.
NaCl 0,1 M

-          Dipipet 2 ml
-          Dimasukan ke tabung reaksi
-          Ditambahkan 3 tetes AgNO3 1%
-          Diamati
-          Tahap uji diulangi untuk bahan kloroform

Hasil..?



E.       HASIL PENGAMATAN
No
Uji
Perlakuan
Hasil
1.
Deteksi unsur-unsur dengan pembakaran senyawa organik
Etanol 2 ml dibakar dan disimpan akuadesdinisn pada gelas kimia diatas cawan krus
Etanol lebih cepat menguap dibandingkan air
2.
Perbedaan dalam ionisasi
NaCl + Ag NO3

Terionisasi
Kloroform + Ag NO3

Tidak terionisasi
3.
Tes beilstein
HCl 3M + kawat tembaga panas
Reaksi positif terdapat gelembung
Kloroform + kawat tembaga panas
Reaksi positif tidak terdapat gelembung
KI + kawat tembaga panas

4.
Perbedaan sifat karena pemanasan
NaCl dipanaskan
Tidak terjadi perubahan
Glukosa dipanaskan
Menjadi hitam
F.       PEMBAHASAN
Senyawa organik merupakan senyawa yang memiliki ikatan karbon dan hidrogen atau lebih sederhananya memiliki atom karbon sebagai salah satu unsur yang menyusun senyawa tersebut kecualikarbidakarbonat, dan oksida karbon. Sedangkan senyawa anorganik merupakan senyawa yang tidak memiliki atom karbon, dalam hal ini senyawa dapat dibentuk oleh unsur logam dan logam, non logam dan logam, dan sebagainya. Senyawa organik dan anorganik memiliki sifat yang berbeda dalam merespon reaksi kimia dengan senyawa lain. Berdasarkan perbedaan ini, maka pada percobaan kali ini dilakukan beberapa uji terhadap sampel-sampel yang termasuk senyawa organik dan senyawa anorganik.
Senyawa organik yang digunakan yaitu etanol, kloroform, dan glukosa, sedangkan senyawa anorganik yang digunakan yaitu H2O, HCl, NaCl, dan KI. Uji pertama yaitu deteksi unsur-unsur dengan pembakaran senyawa organik, hasil yang diperoleh yaitu etanol lebih cepat mencapai titik didihnya dan terjadi penguapan dibandingkan air. Seperti yang diketahui beberapa faktor yang mempengaruhi titik didih yaitu berat molekul, adanya zat terlarut, dan ikatan yang dibentuk oleh antar molekul. Berat molekul berbanding lurus dengan kenaikan titik didih suatu larutan, semakin besar berat molekul menandakan bahwa banyaknya molekul dalam larutan tersebut, sehingga pergerakan molekul semakin sulit dan membuat ikatan yang dibentuk pun susah putus. Adanya zat terlarut masih berkaitan dengan penambahan berat molekul. Jenis ikatan juga ikut andil dalam titik didih suatu larutan. Larutan yang molekul-molekulnya diikat oleh ikatan ionik atau kovalen yang bersifat kuat maka diperlukan waktu lebih untuk memutuskannya.
Etanol walaupun memiliki berat molekul yang lebih tinggi dari pada air, yaitu 46,07 g/mol tetapi lebih cepat mencapai titik didihnya dibandingkan air. Hal ini dipengaruhi oleh faktor ikatan yang dibentuk oleh molekul air, dimana antara atom O pada suatu molekul akan mengikat dengan ikatan hidrogen dengan atom H pada molekul lainnya. Berdasarkan teori, ikatan hidrogen ini merupakan ikatan kovalen polar yang tingkat kekuatan ikatannya berada dibawah ikatan ionik dan ikatan ini banyak dibentuk oleh senyawa organik. Untuk memutuskan ikatan hidrogen sangat susah sebab kecenderungan atom H untuk tertarik ke atom O yang bersifat lebih elektronegativitas, sehingga ikatan ini susah untuk dilepaskan. Sedangkan pada etanol juga terjadi ikatan hidrogen pada molekulnya, mengingat etanol memiliki molekul yang hampir sama dengan air, tetapi adanya gugus alkil pada sisi lain atom O yang membuat ikatan yang dibentuk tidak sekuat ikatan yang dibentuk oleh air.
Selanjutnya dilakukan uji perbedaan dalam ionisasi. Seperti yang diketahui senyawa organik merupakan non elektolit dan senyawa anorganik merupakan senyawa elektrolit. Elektrolit merupakan kemampuan untuk mengantarkan listrik yang disebabkan oleh terbentuknya kation dan anion dalam larutan sehingga listrik dapat dihantarkan. Ketika HCl yang merupakan senyawa anorganik di tambahkan beberapa tetes AgNO3, maka ikatan ion HCl terputus dengan terbentuknya H yang beruang pasial positif dan Cl yang beruang parsial negatif, inilah yang dikatakan sebagai ion muatan yang dihasilkan dan ionisasi yaitu terbentuknya ion-ion yang bermuatan. Sedangkan pada anorganik, ketika kloroform ditambahkan AgNO3, kloroform tidak dapat berubah menjadi ion-ion. Tujuan penambahan AgNO3 untuk bereaksi dengan senyawa larutan sehingga pada senyawa yang terdiri atas ion, ion-ionnya akan lebih mudah bergerak bebas.
Terbentuknya ion-ion ini berkaitan dengan uji beilstein. Pada uji ini, kedalam NaCl, kloroform dan KI dimasukan kawat yang telah dipanaskan, lalu diamati terbentuknya gelembung-gelembung pada larutan. Hasil yang diperoleh yaitu senyawa organik tidak terdapat gelembung pada larutan sedangkan pada larutan senyawa organik terdapat gelembung. Ketika kawat panas dimasukan kedalam larutan, ion-ion pada larutan senyawa anorganik akan menghantarkan panas dan akan terbentuk gelembung-gelembung gas yang berupa hidrogen sebagai bentuk penguapan. Sedangkan pada larutan senyawa organik tidak dapat membentuk ion-ion sehingga gelembung gas tidak dapat dihasilkan. Pada percobaan ini tidak dilakukan perlakuan uji pada larutan KI sehingga tidak diperoleh hasil untuk KI.
Selanjutnya dilakukan uji perbedaan sifat karena pemanasan. Telah dijelaskan sebelumnya senyawa organik disusun oleh atom karbon, dan terdapat ikatan C-H pada senyawanya. Ketika senyawa organik dipanaskan, maka atom H yang merupakan golongan gas akan mengalami penguapan dan yang tersisa adalah atom karbon. Sesuai namanya, karbon identik dengan warna hitam. Maka bila senyawa organik dipanaskan terus menerus, maka yang diperoleh adalah serbuk hitam atau kehitaman yang merupakan sifat karbon. Sedangkan pada senyawa anorganik, tidak akan mengalami perubahan apapun karena tidak disusun oleh karbon. Pada hasil pun menunjukkan hal yang sejalan dengan teori, dimana glukosa dipanaskan menghasilkan benda dengan warna hitam, ini menunjukan pada glukosa terdapat karbon. Sedangkan pada NaCl tidak terjadi perubahan apapun yang merupakan tanda bahwa tidak terdapat karbon dalam NaCl.
G.      KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari praktikum ini yaitu:
Untuk mengidentifikasi senyaw organik dan anorganik dapat dilakukan uji pembakaran, tes beilstein, tes pemanasan, dan tes ionisasi dengan menggunakan AgNO3 sebagai pereaksi.
Sifat dasar senyawa organik yaitu memiliki titik didih yang tinggi dibandingkan senyawa anorganik, senyawa organik tidak dapat membentuk ion-ion atau tidak terionisasi, sedangkan senyawa anorganik dapat mengalami ionisasi menjadi kation dan anion sehingga dapat menghantarkan arus listrik dan menghasilkan gelembung, senyawa organik bila dipanaskan akan terbentuk arang yang merupakan perwujudan dari atom karbon dalam senyawanya sedangkan pada senyawa anorganik bila dipanaskan tidak akan berubah warna menjadi hitam.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin. Z. 2008. Beberapa Unsur Mineral Esensial Mikro Dalam Sistem Biologi dan Metode Analisisnya.Jurnal Litbang PertanianVol. 27 No.3.

Darmawan. P. 2008. Pembuatan dan Karakterisasi Karbon Aktif dari Kulit Ubi Kayu. Jurnal Kimia dan Teknologi. ISSN 0216-163X.

Fessenden, Fessenden. 1982. Kimia Organik. Edisi Ketiga Jilid 1, Erlangga, Jakarta.
Kurniawan. Y., Muhammad. N. 2005. Studi Pemodelan Dinamika Proton Dalam Ikatan Hidrogen H2O Padatan Satu Dimensi. Jurnal FisikaVol.8, No.3.

Lestari. A.P. 2009. Pengembangan Pertanian Berkelanjutan Melalui Subtitusi Pupuk Anorganik dengan Pupuk Organik. Jurnal AgronomiVol.13, No.1.
Wiratmaja. I.G., I Gusti. BWK., I Nyoman. SW. 2011, “Pembuatan Etanol Generasi Kedua Dengan Memanfaatkan Limbah Rumput Laut Eucheuma Cottonii Sebagai Bahan Baku”, Jurnal Ilmiah Teknik MesinVol. 5 No.1.
Pertanyaan :
Simpulkan perbedaan senyawa organik dan senyawa anorganik !
Tuliskan persamaan reaksi untuk percobaan 1a1; 1a2; 1a3 dan 1b !
Tuliskan persamaan reaksi untuk percobaan 2a !
Simpulkan hasil pengamatan percobaan 2b!
Simpulkan hasil ppengamatan percobaan 2c !
Jawab :
Perbedaan senyawa organik dan senyawa anorganik :
-          Senyawa organik memiliki atom karbon pada senyawanya, sedangkan senyawa anorganik tidak memiliki atom karbon pada senyawanya
-          Ikatan yang menyusun molekul senyawa organik yaitu ikatan kovalen, sedangkan ikatan yang menyusun molekul senyawa anorganik yaitu ikatan ionik dan kovalen polar
-          Senyawa organik memiliki titik didih yang rendah sehingga cepat mengalami penguapan, sedangkan senyawa anorganik memiliki titik didih yang tinggi
-          Senyawa organik bukan senyawa elektrolit, tidak mampu terionisasi sehingga tidak dapat menghasilkan gelembung gas, sedangkan senyawa anorganik merupakan senyawa elektrolit, mampu terionisasi sehingga menghasilkan gelembung gas ketika diberikan kawat panas.
-          Apabila dibakar, senyawa organik akan mengalami perubahan warna menjadi hitam yang disebabkan oleh adanya karbon dalam senyawanya, sedangkan senyawa anorganik tidak akan mengalami perubahan warna menjadi hitam.



Percobaan 2c :
Senyawa organik yaitu kloroform bukanlah senyawa yang dapat membentuk ion atau mengalami ionisasi sehingga ketika ditambahkan AgNO3 maka tidak terjadi ionisasi, sedangkan senyawa anorganik yang terikat secara ionik ketika ditambahkan AgNO3, ikatan ioniknya akan merenggang dan putus menyebabkan terbentuknya ion-ion bermuatan sehingga senyawa anorganik dapat terionisasi dan tidak pada senyawa organik.
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK I
PERCOBAAN 2
SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK
OLEH :
NAMA                         :           NURRAMADHANI.A.SIDA
STAMBUK                 :           F1F1 11 114
KELAS                       :           FARMASI A
KELOMPOK              :           4
NAMA ASISTEN      :           MUH. DITO ERLANGGA
LABORATORIUM FARMASI
JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS HALUOLEO
KENDARI
2012
SIFAT-SIFAT KELARUTAN SENYAWA ORGANIK
A.    TUJUAN
Adapun tujuan dari praktikum ini, yaitu :
Mempelajari sifat-sifat kelarutan senyawa organik.
Membandingkan tingkat kelarutan suatu senyawa terhadap beberapa pelarut.

B.       LANDASAN TEORI
Senyawa organik adalah golongan besar senyawa kimia yang molekulnya mengandung karbon, kecualikarbidakarbonat, dan oksida karbon. Studi mengenai senyawaan organik disebut kimia organik. Di antara beberapa golongan senyawaan organik adalah senyawa alifatik, rantai karbon yang dapat diubah gugus fungsinya; http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Hidrokarbon_aromatik&action=edit&redlink=1″>hidrokarbon aromatik, senyawaan yang mengandung paling tidak satu cincin benzenasenyawa heterosiklik yang mencakup atom-atom nonkarbon dalam struktur cincinnya; dan polimer, molekul rantai panjang gugus berulang (Siregar, 2012).
Kelarutan adalah kadar jenuh solute dalam sejumlah solven pada suhu tertentu yang menunjukkan bahwa interaksi spontan satu atau lebih solute atau solven telah terjadi dan membentuk dispersi molekuler yang homogeni. Kelarutan suatu zat (solute) dalam solven tertentu digambarkan sebagai like dissolves like senyawa atau zat yang strukturnya menyerupai akan saling melarutkan, yang penjabarannya didasarkan atas polaritas antara solven dan solute yang dinyatakan dengan tetapan dielektrikum, atau momen dipole, ikatan hydrogen, ikatan van der waals (London) atau ikatan elektrostatik yang lain (Anonim, 2012).
Kelarutan sebagian besar disebabkan oleh polaritas dari pelarut, yaitu dari momen dipolnya. Namun Hildebrand membukti bahwa pertimbangan tentang dipol momen saja tidak cukup untuk menerangkan kelarutan zat polar dalam air. Kemampuan zat terlarut membentuk ikatan hidrogen lebih merupakan faktor yang jauh lebih berpengaruh dibandingkan dengan polaritas. Air melarutkan fenol, alkohol, aldehida, keton, dll yang mengandung oksigen dan nitrogen yang dapat membentuk ikatan hidrogen dalam air. Pelarut non polar tidak dapat mengurangi gaya tarik-menarik antara ion-ion elektrolit kuat dan lemah, karena tetapan dielektrik pelarut yang rendah. Pelarut juga tidak dapat memecahkan ikatan kovalen dan elektrolit yang berionisasi lemah karena pelarut non polar termasuk dalam golongan pelarut aprotik dan tidak dapat membentuk jembatan hidrogen dengan non elektrolit. Oleh karena itu zat terlarut ionik dan polar tidak larut atau hanya dapat larut sedikit dalam pelarut nonpolar. Maka, minyak dan lemak larut dalam benzen, tetrakloroda dan minyak mineral. Alkaloida basa dan asam lemak larut dalam pelarut nonpolar (Martin, 1993).
Etanol merupakan zat cair, tidak berwarna, berbau spesifik, mudah terbakar dan menguap, dapat bercampur dalam air dengan segala perbandingan. Secara garis besar penggunaan etanol adalah sebagai pelarut untuk zat organik maupun anorganik, bahan dasar industri asam cuka, ester, spirtus, asetaldehid, antiseptik dan sebagai bahan baku pembuatan eter danetil ester (Wiratmaja, 2011). Heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus kimia C6H14 . Awalan heks- merujuk pada enam karbon atom yang terdapat pada heksana dan akhiran -ana berasal dari alkana, yang merujuk pada ikatan tunggal yang menghubungkan atom-atom karbon tersebut. Dalam keadaan standar senyawa ini merupakan cairan tak berwarna yang tidak larut dalam air (Munawaroh, 2010).
Umumnya minyak goreng yang digunakan untuk menggoreng adalah minyak bunga matahari, minyak kelapa sawit, minyak kelapa. Fakta bahwa, ketika minyak seperti ini yang dipanaskan untuk perpanjangan waktu (penyalahgunaan), mereka mengalami oksidasi (degradasi) dan menimbulkan oksida. Banyak dari seperti hidroperoksida, epoksida dan polimer zat telah menunjukkan merugikan kesehatan / biologi efek seperti retardasi pertumbuhan, peningkatan ukuran hati dan ginjal serta kerusakan sel (Sudhir, 2010).
Bahan yang bersifat polar terdiri dari bahan yang bersifat ionik atau kovalen. Untuk yang non polar umumnya adalah bersifat kovalen. Berdasarkan polaritas ini maka pelarut-pelarut yang ada di alam juga dapat digolongkan. Hal ini dapat membantu pemilihan jenis pelarut yang akan digunakan saat akan melarutkan bahan. Pada bagian berikut disajikan tabel polaritas berbagai jenis pelarut yang sering digunakan di laboratorium (Iqmal, 2012).
Ikatan hidrogen dapat membentuk fase baru dan menghasilkan suatu senyawa baru dalam ikatannya dengan atom lain seperti atom C, N, O, maupun ikatannya dengan atom hidrogen sendiri, antara lain dalam pembentukan benzena, air(es), amoniak dan lain-lain. Pada ikatan hidrogen tersebut terdapat karakteristik proton penyusun atomnya, yaitu gerakan-gerakan dinamis proton dalam ikatan tersebut dapat dipelajari dengan mengkaji persamaan gerak proton dalam ikatan sehingga dapat diketahui perilaku proton dalam keadaan tertentu. Ikatan hidrogen dalam molekul H2O merupakan ikatan kovalen, kajian kepadanya diperlukan untuk mengetahui bagaimana keadaan ideal dari molekul tersebut (Kurniawan, 2005).




C.      URAIAN BAHAN
a)      Akuades (Dirjen POM, 1979).
Nama Resmi             : Aqua destilata.
Nama Lain    : air suling
Rumus Molekul        : H2O
Berat molekul           : 18
Rumus Bangun         :


Pemerian                   : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak  berbau, tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan            : dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan                  : sebagai pelarut.
b)     NaCl (FI.Ed.III hal. 403).
Nama Resmi                         : Natrium Chloridum
Nama Lain                : Natrium klorida
Berat Molekul           : 32.04 g/mol
Rumus Molekul        : NaCl
Rumus Bangun         :

Pemerian                   : Hablur bentuk kubus, tidak berwarna atau serbuk hablur      putih; rasa asin.
Kelarutan           : Mudah larut dalam air; sedikit lebih mudah larut dalam air mendidih; larut dalam gliserin; sukar larut dalam etano
Penyimpanan      : Dalam Wadah Tertutup baik
Khasiat               : Hemodialisis
Kegunaan           : Sebagai Sampel
c)      Etanol
Nama Resmi                         : Etil Alkohol / etanol
Nama Lain                : Etil alkohol; hidroksietana; alkohol; etil hidrat; alkohol absolut
Berat molekul           : 46,07 g/mol
Rumus Molekul        : C2H5OH
Rumus Bangun         :


Pemerian                   : cairan yang mudah menguap, mudah terbakar, tak berwarna, dan merupakan alkohol yang paling sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari
Kegunaan                  : sebagai pelarut.
d)     Kloroform
Nama                        : Chloroformum
Nama lain                  : kloroform
Berat molekul           : 119,38 g/mol
Rumus molekul         : CHCl3
Rumus bangun          :



Pemerian                   : cairan, mudah menguap; tidak berwarna; bau khas; rasa manis dan membakar.
Kelarutan                  : larut dalam lebih kurang 200 bagian air; mudah larut dalam etanol mutlak, dalam eter, dalam sebagian besar pelarut organik, dalam minyak atsiri dan dalam minyak lemak.
Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup baik bersumbat kaccca, terlindung dari cahaya.
Khasiat                      : pengawet dan zat tambahan
Kegunaan                  : pereaksi

e)      Glukosa (FI. Ed. III hal.268)
Nama resmi               : Glucosum
Nama lain                  : Glukosa
BM / RM                  : 198,17 g/mol
Rumus molekul         : C6H12O6
Rumus bangun          :



Pemerian                   : hablur tidak berwarna, serbuk halus atau butiran putih; tidak berbau; rasa manis.
Kelarutan                  : mudah larut dalam air; sangat mudah larut dalam air mendidih; agak sukar larut dalam etanol (95%) mendidih; sukar larut dalam etanol (95%).
Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup baik
Kegunaan                  : sebagai bahan uji
f)       HCl
Nama resmi               : Acidum Hydrochloridum
Nama lain                  : Asam klorida
BM / RM                  : 36,46 g/mol
Rumus molekul         : HCl
Rumus bangun          :

Pemerian                   : cairan tidak berwarna; berasap; bau merangsang. Jika diencerkan dengan 2 bagian air, asao dan bau hilang.
Penyimpanan                        : dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan                  : sebagai bahan uji
g)      NaOH (Dirjen POM, 1979).
Nama resmi                 :  Natrii hydroxydum
Nama lain                    :  Natrium hidroksida
Berat molekul              :  40,00 g/mol
Rumus molekul           : NaOH
Pemerian                     : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping, kering, rapuh dan mudah meleleh basah. Sangat alkalis dan korosif. Segera menyerap CO2
Kelarutan                    :   Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%) .
Penyimpanan               :   Dalam wadah tertutup baik
o     Kandungan                 : Mengandung tidak kurang dari 97,5% alkali jumlah dihitung sebagai NaOH dan tidak lebih dari 2,5% Na2CO3
Khasiat                        :   -
Kegunaan                    :   Sebagai zat tambahan
h)      Asam asetat (Dirjen POM, 1979).
Nama resmi           : Acidum aceticum
Nama lain              : Cuka
Berat molekul        : 60,05 g/mol
Rumus molekul     : C2H4O2
Rumus bangun      :

Pemerian               : cairan jernih; tidak berwarna, bau menusuk, rasa asam, tajam
Kelarutan              : dapat campur dengan air, dengan etanol (95%), dan dengan gliserol.
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup rapat
Khasiat                  : zat tambahan.
i)        Etil asetat
Nama resmi           : Acidum aceticum
Nama lain              : Cuka
Berat molekul        : 60,05 g/mol
Rumus molekul     : C2H4O2
Rumus bangun      :

Pemerian               : cairan jernih; tidak berwarna, bau menusuk, rasa asam, tajam
Kelarutan              : dapat campur dengan air, dengan etanol (95%), dan dengan gliserol.
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup rapat
Khasiat                  : zat tambahan.


j)         Metanol (Dirjen POM, 1979).
Nama Resmi         : Metil Alkohol
Nama Lain           : Metanol, Hidroksimetana, Metil alkohol, Metil hidrat, Alkohol kayu, Karbinol.
Berat Molekul      : 32.04 g/mol
Rumus Molekul    : CH3OH
Rumus Bangun    :


Pemerian              : Pada “keadaan atmosfer” ia berbentuk cairan yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol).
Kegunaan             : sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan sebagai bahan additif bagi etanol industri.
k)       Butanol (Mewal, 2011).
Nama Resmi         : Butanol
Nama Lain           : butil alkohol
Berat molekul       : 46,07 g/mol
Rumus Molekul    : C4H9OH.
Rumus Bangun    :

Pemerian              :
Kegunaan             : sebagai pelarut, sebagai perantara dalam sintesis kimia, dan sebagai bahan bakar.
l)        n-Heksan (Dirjen POM, 1979).
Nama                           : n-heksana
Berat molekul              : 86.18 g/mol
Rumus molekul           : C6H14
Rumus bangun            :



Pemerian                     : cairan tak berwarna, dapat dibakar
Kegunaan                    : pelarut organik
m)    Asam sulfat (Dirjen POM, 1979).
Nama resmi           : Acidum sulfuricum
Nama lain              : asam sulfat
Berat molekul        : 98,07 g/mol
Rumus molekul     : H2SO4
Rumus Bangun     :
Pemerian               : cairan kental seperti minyak, korosif, tidak berwarna; jika ditambahkan ke dalam air menimbulkan panas.
Penyimpanan         : dalam wadah tertutup rapat
Khasiat                  : zat tambahan

n)      Parafin (Dirjen POM, 1979).
Nama resmi           : Paraffinum liquidum
Nama lain              : Parafin cair
Pemerian               : Cairan kental, transparan, tidak berfluorensensi, tidak berwarna, hampir tidak berbau, hampir tidak mempunyai warna.
Kelarutan              : Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol (95%), larut dalam kloroform dan dalam eter.










D.      METODE KERJA
1.        Alat dan Bahan
a)      Alat.
Alat yang digunakan, yaitu :
-          Tabung reaksi
-          Pipet tetes
b)      Bahan.
Bahan yang digunakan, yaitu :
-          Kloroform
-          Etanol
-          H2SO4 encer
n-Heksana
-          HCl
-          Butanol
-          Metanol
-          Glukosa
-          Minyak Goreng
-          Parafin
-          Etil asetat
-          Asam asetat
-          NaOH
-          Akuades


2.      Prosedur Kerja
 Minyak goreng

-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Larut dalam n-Heksana dan NaOH

 Metanol

-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-Heksana























 Etanol

-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4




Tidak larut dalam n-Heksana

 Glukosa

-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut

 Butanol




















-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4





Larut




 Parafin

-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4





 Metanol

Larut dalam n-Heksana








 Etil asetat

-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4





Larut dalam n-Heksana

-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-Heksana

 Kloroform


















-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-heksana

Asam asetat

-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-Heksana

 Asam sulfat

-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-Heksana

 Aquades




































-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-Heksana

Natrium Hidroksida

-          Dipipet
-          Dimasukan kedalam tabung reaksi
-          Ditambahkan n-heksan
-          Diamati kelarutannya
-          Tahap diatas diulangi untuk pelarut H2O, NaOH, HCl, dan H2SO4

Tidak larut dalam n-Heksana

 Asam Klorida

























E.       HASIL PENGAMATAN
No
Senyawa
Kelarutan Dalam
n-Heksana
H2O
NaOH
HCl
H2SO4
1.
Minyak Goreng
-
-
-
2.
Metanol
-
3.
Etanol
-
4.
Butanol
-
-
-
-
-
5.
Glukosa
6.
Parafin
-
-
-
-
7.
Etilasetat
-
-
-
-
8.
Kloroform
-
9.
Asam asetat
-
10.
Air
-
11.
Asam sulfat
-
12.
Natrium hidroksida
-
13.
Asam klorida
-



F.       PEMBAHASAN
Senyawa organik merupakan senyawa yang memiliki atom karbon sebagai salah satu unsur yang menyusun senyawanya kecuali karbidakarbonat, dan oksida karbon. Penggunaan senyawa organik itu sendiri telah banyak digunakan dalam laboratorium, dan kehidupan sehari-hari pun kerap dipakai untuk keperluan manusia, sebagai contoh penggunaan cuka atau asam asetat dalam bahan tambahan makanan, karbohidrat yang berupa sukrosa sebagai gula pemanis makanan dan minuman. Namun kebanyakan senyawa organik ditemui dalam bentuk padatan, dan juga beberapa diantaranya berupa cairan. Senyawa organik banyak digunakan dalam bentuk larutan, yaitu campuran pelarut dan terlarut. Namun, tidak semua senyawa organik dapat larut dalam 1 jenis pelarut yang sama, ada beberapa sifat kelarutan yang berbeda pada setiap senyawa organik.
Pada percobaan ini, dilakukan pengujian kelarutan beberapa contoh senyawa organik dalam beberapa jenis pelarut. Pelarut yang digunakan yaitu air, HCl, H2SO4 dan NaOH sebagai pelarut anorganik dan n-heksan sebagai pelarut organik. Berdasarkan kepolarannya, air, HCl, H2SO4 dan NaOH merupakan pelarut polar dan n-heksan sebagai pelarut non polar. Berpatokan pada prinsip kelarutan Like Dissolves Like, maka senyawa yang bersifat polar akan larut dalam pelarut yang polar, begitupun untuk senyawa yang bersifat non polar akan larut dalam pelarut non polar.
Berdasarkan hasil yang diperoleh pada praktikum ini, hanya glukosa yang menunjukan kelarutan pada segala jenis pelarut. Kelarutan suatu solut dalam sejumlah solven selain dipengaruhi oleh kepolaran, juga dipengaruhi oleh kemampuan untuk membentuk ikatan hidrogen dengan molekul pelarut. Pada glukosa misalnya, glukosa merupakan senyawa non polar, dimana glukosa dibentuk oleh ikatan kovalen dan muatan dieletriknya adalah O karena kecilnya perbedaan elektronegativitasnya. Bila berpatokan pada prinsip Like dissolves like maka glukosa seharusnya hanya dapat larut dalam pelarut non polar yaitu n-heksan. Namun karena kemampuannya untuk membentuk ikatan hidrogen melalui atom O pada gugus glukosa yang melakukan ikatan dengan atom H pada air sehingga glukosa dapat larut dalam pelarut air. Namun bukan saja dengan air senyawa glukosa dapat membentuk ikatan hidrogen, pada pelarut polar lainnya juga.
Untuk bahan kloroform, asam asetat, air, asam sulfat, natrium hidroksida, dan asam klorida menunjukkan kepolaritasannya dalam kelarutan pada pelarut, dimana bahan-bahan uji ini hanya larut dalam pelarut polarnya dan tidak pada pelarut n-heksan. Seperti yang dijelaskan pada literatur, kecenderungan suatu zat untuk larut sempurna dalam pelarutnya diperngaruhi oleh kesamaan polaritas, kesamaan zat tersebut untuk berubah menjadi kutup-kutup yang berupa kation dan anion dan membentuk suatu zat baru dengan melakukan ikatan antar kutup. Pada kloroform, asam asetat, asam klorida, natrium hidroksida dan lain sebagainya, ikatan antar atom nya dibentuk dari ikatan ionik atau kovalen polar. Dimana ikatan ionik apabila diputuskan, maka atom yang memiliki tingkat elektronegatif lebih tinggi akan bermuatan negatif dan atom lainnya akan bermuatan positif. Ketika 2 zat ini dicampurkan maka bagian parsial positif akan menarik bagian parsial negatif untuk membentuk ikatan baru sehingga dihasilkan zat baru.
Turunan alkohol yaitu metanol, etanol dan butanol berdasarkan hasil percobaan ini diperoleh data yang menunjukkan hanya butanol yang tidak larut pada beberapa pelarut yang disediakan. Dalam prinsip like dissolves like dijelaskan bahwa kelarutan dapat dipengaruhi oleh kesamaan struktur yang membentuk molekulnya. Molekul air, dibentuk oleh atom H dan O dan alkohol juga dibentuk oleh atom H dan O oleh sebuah ikatan sigma. Adanya gugus OH ini membuat alkohol memiki polaritas yang hampir sama dengan polaritas air. Namun kepolaritasan yang dimiliki oleh senyawa-senyawa turunan alkohol tidak akan sebanding dengan polaritas air, hal ini dipengaruhi oleh kehadiran gugus alkil pada molekulnya. seperti yang diketahui gugus alkil merupakan gugus non polar, semakin panjang alkil yang dimiliki oleh suatu senyawa maka semakin besar sifat non polarnya. Pada metanol dan etanol, dimana gugus alkil yang kedua senyawa ini miliki tidak begitu panjang dan tidak merubah tingkat kelektronegatif sehinnga etanol dan metanol dapat larut dalam pelarut polar. Sedangkan pada butanol, gugus alkilnya lebih mendominasi molekul sehingga tidak dapat larut dalam senyawa polar. Namun, pada hasil yang diperoleh butanol juga tidak larut dalam pelarut n-heksan sebagai pelarut nonpolar. Hal ini dapat diperngaruhi oleh kesalahan dalam mencampur bahan.
Lalu untuk kelarutan parafin, minyak goreng dan etil asetat sebagai senyawa nonpolar sudah dapat dipastikan hanya akan larut dalam pelarut non polar, dan hal ini dibenarkan pada hasil pencampuran ketiga bahan ini dengan pelarut n-heksan. Dimana, ketiga bahan ini hanya larut total dalam n-heksana dan membentuk 2 lapis cairan apabila dilarutkan dalam pelarut polar. Terbentuknya 2 lapis cairan oleh senyawa polar dan senyawa nonpolar ini dipengaruhi oleh ikatan yang dibentuk. Pada literatur dijelaskan non polar hnya dapat berikatan antar alkil ], sehingg ketika dicampurkan, senyawa polar yang umumnya tidak memiliki rantai alkil tidak dapat diikat oleh senyawa nonpolar. Begitupun senyawa polar yang dapat berikatan apabila ada ion bermuatan yang dihasilkan atau adanya atom yng lebih elekronegatif menarik atom H dan membentuk jembatan hidrogen.

Dalam bidang farmasi, pengetahuan mengenai kelarutan sangat diperlukan. Pengetahuan mengenai sifat-sifat kelarutan senyawa organik digunakan oleh  apoteker dalam membuat dan meracik obat sehingga obat menyenangkan untuk dikonsumsi, selain itu pula digunakan apoteker untuk memperkirakan efek terapi dari obat tersebut, apakah onset yang dihasilkan cepat atau lambat berdasarkan daya larutny dalam lemak tubuh.

G.      KESIMPULAN
Berdasrkan hasil percoban maka dapat ditarik kesimpulan :
Senyawa organik dapat larut dalam pelarut polar dan non polar. Kelarutan senyawa organik tergantung pada kemampuan senyawa organik untuk membentuk ikatan hidrogen dengan atom-atom elektronegatif sehingga dapat larut dalam senyawa polar.
Tingkat kelarutan senyawa organik yaitu glukosa > (metanol, etanol, klorofm, asam asetat) > (n-heksan, parafin, minyak goreng) > butanol.


DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2012. Penuntun Praktikum Farmasi Fisik I. Universitas Haluoleo. Kendari.
Dirjen POM.1972. Farmakope Indonesia.. Edisi Ke-I. Jakarta : Departemen Kesehatan RI.

Iqmal. 2012. Kaidah Kelarutan Bahan. http://iqmal.staff.ugm.ac.id/?p=2425. Diakses 25 November 2012.

Kurniawan. Y., Muhammad. N. 2005. Studi Pemodelan Dinamika Proton Dalam Ikatan Hidrogen H2O Padatan Satu Dimensi. Jurnal FisikaVol.8, No.3.

Lestari. A.P. 2009. Pengembangan Pertanian Berkelanjutan Melalui Subtitusi Pupuk Anorganik dengan Pupuk Organik. Jurnal AgronomiVol.13, No.1.

Martin, Alfred.1993. Farmasi Fisik Dasar-Dasar Kimia Fisik Dalam Ilmu Farmasetik. Edisi Ketiga 1. UI Press. Jakarta.
Munawaroh. S., Prima.AH. 2010. Ekstraksi Minyak Daun Jeruk Purut (Citrus hystrix D.C.) Dengan Pelarut Etanol dan N-Heksana. Jurnal Kompetensi Teknik. Vol. 2. No.1. Hal : 73-78.

Wiratmaja. I.G., I Gusti. BWK., I Nyoman. SW. 2011, “Pembuatan Etanol Generasi Kedua Dengan Memanfaatkan Limbah Rumput Laut Eucheuma Cottonii Sebagai Bahan Baku”, Jurnal Ilmiah Teknik MesinVol. 5 No.1.

Sudhir, CV., NY. Sharma., p. Mohanan. 2007. Potentil of Waste Cooking Oils as Biodiesel Feed Stock.Journal for Engineering Research12 (3). Hal:69-75.







Pertanyaan :
Simpulkan perbedaan senyawa organik dan senyawa anorganik !
Tuliskan persamaan reaksi untuk percobaan 1a1; 1a2; 1a3 dan 1b !
Tuliskan persamaan reaksi untuk percobaan 2a !
Simpulkan hasil pengamatan percobaan 2b!
Simpulkan hasil ppengamatan percobaan 2c !
Jawab :
Perbedaan senyawa organik dan senyawa anorganik :
-          Senyawa organik memiliki atom karbon pada senyawanya, sedangkan senyawa anorganik tidak memiliki atom karbon pada senyawanya
-          Ikatan yang menyusun molekul senyawa organik yaitu ikatan kovalen, sedangkan ikatan yang menyusun molekul senyawa anorganik yaitu ikatan ionik dan kovalen polar
-          Senyawa organik memiliki titik didih yang rendah sehingga cepat mengalami penguapan, sedangkan senyawa anorganik memiliki titik didih yang tinggi
-          Senyawa organik bukan senyawa elektrolit, tidak mampu terionisasi sehingga tidak dapat menghasilkan gelembung gas, sedangkan senyawa anorganik merupakan senyawa elektrolit, mampu terionisasi sehingga menghasilkan gelembung gas ketika diberikan kawat panas.
-          Apabila dibakar, senyawa organik akan mengalami perubahan warna menjadi hitam yang disebabkan oleh adanya karbon dalam senyawanya, sedangkan senyawa anorganik tidak akan mengalami perubahan warna menjadi hitam.



Percobaan 2c :
Senyawa organik yaitu kloroform bukanlah senyawa yang dapat membentuk ion atau mengalami ionisasi sehingga ketika ditambahkan AgNO3 maka tidak terjadi ionisasi, sedangkan senyawa anorganik yang terikat secara ionik ketika ditambahkan AgNO3, ikatan ioniknya akan merenggang dan putus menyebabkan terbentuknya ion-ion bermuatan sehingga senyawa anorganik dapat terionisasi dan tidak pada senyawa organik.






 CampuranIdeal
Campuran ideal adalah sebuah campuran yang menaati hukum Raoult.        Suatu larutan dikatakan ideal, jika mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
Homogen pada seluruh kisaran komposisi dari system, mulai dari fraksi mol nol sampai dengan satu (0<x<1).
Pada pembentukan larutan dari komponennya, tidak ada perubahan entalpi (∆H campuran = 0), artinya panas larutan sebelum dan sesudah pencampuran adalah sama.
Perubahan volume campuran adalah sama dengan nol (V campuran = 0), artinya jumlah volume larutan sebelum dan sesudah pencampuran adalah sama.
Memenuhi hukum Raoult.
  Suatu larutan dianggap bersifat ideal, karena didasarkan pada kekuatan relative dari gaya tarik-menarik antara molekul solute dengan solventnya. Larutan atau campuran ideal adalah larutan yang gaya tarik-menarik antara molekul-molekul sama dengan gaya tarik-menarik molekul-molekul dari solute dan solventnya masing-masing.
Campuran ideal dan gaya intermolekuler
Dalam sebuah larutan A ketika diberikan kalor, ada beberapa molekul yang berenergi besar dapat menggunakan energinya untuk mengalahkan daya tarik intermolekuler permukaan cairan dan melepaskan diri untuk kemudian menjadi uap.
Semakin kecil daya intermolekuler, semakin banyak molekul yang dapat melepaskan diri pada suhu tertentu.
Dalam larutan B ketika diberikan kalor, hal yang sama juga terjadi, sebagian dari molekul-molekul yang ada akan mempunyai energi yang cukup untuk melepaskan diri dari permukaan larutan.
Dikatakan campuran ideal yaitu apabila kedua jenis zat cair ini dicampurkan, maka kecenderungan molekul yang beeenergi tinggi untuk melepaskan diri dan menjadi uap dari kedua jenis zat cair ini tidak berubah. Dimana jumlah molekul zat yang melepaskan diri menjadi uap pada saat masih dalam sesama jenis sama dengan jumlah molekul yang menjadi uap pada saat kedua zat dicampurkan. KECENDERUNGAN melepaskan diri ini berhubungan dengan kuatnya ikatan, dengan kata lain campuran ideal yaitu campuran yang memiliki ikatan antar molekul suatu larutan sama dengan ikatan antar molekul sebelum menjadi campuran
Hubungan hukum raoult dengan campuran ideal.
Tekanan uap parsial berbanding lurus dengan fraksi mol, semakin besar fraksi mol semakin besar pula tekanan uap parsialnya. Fraksi mol berhubungan dengan banyaknya zat terlarut yang terdapat dalam larutan tersebut. Maka dapat disimpulkan semakin banyak molekul yang terdapat dalam molekul maka semakin besar tekanan uapnya.
Tekanan uap itu sendiri berbanding lurus dengan kuatnya ikatan intermolekul yang telah dijelaskan sebelumnya pada campuran ideal. Semakin besar ikatan antar molekul maka semakin sedikit molekul yang dapat berubah menjadi uap sehingga tekanan uapnya kecil, sedangkan apabila ikatan intra molekulnya kecil makin banyak molekul yang melepaskan diri menjadi uap dan tekanan uapnya besar.
Titik didih adalah suhu dimana tekanan uap sama dengan tekanan atmosfer. Untuk tekanan uap rendah diperlukan suhu lebih agar tekanannya sama dengan tekanan atmosfer, sedangkan tekanan uap tinggi tidak perlu memerlukan suhu tinggi untuk membuat tekanan uapnya sama dengan tekanan atmosfer.
Titik didih ini diperlukan dalam proses destilasi, dimana destilasi merupakan metode pemisahan dan pemurnian zat cari berdasarkan perbedaan titik didih, yang memiliki titik didih rendah akan menguap terlebih dahulu dan berubah menjasi destilat setelah diembunkan dan yang memiliki titik didih tinggi akan menguap paling terakhir.
Jadi hukum raoult dapat digunakan untuk menjelaskan proses destilasi.

Faktor-faktor yang mempengaruhi destilasi :
jenis larutan. Setiap larutan mempunyai tekanan uap dan titik didih yang berbeda sehingga proses destilasi dan jenis destilasi yang dilakukan pada tiap larutan dapat berbeda-beda
 volume larutan, 
 Suhu
 dan tekanan
PENGUJIAN AKTIVITAS AMILASE
A.      TUJUAN
Tujuan dilakukannya percobaan ini, yaitu  agar mahasiswa dapat melakukan pengujian aktivitas amilase.
B.       TINJAUAN PUSTAKA
Pati yang juga merupakan simpanan energi di dalam sel-sel tumbuhan ini berbentuk butiran-butiran kecil mikroskopik dengan berdiameter berkisar antara 5-50 nm. Pati umumnya akan terbentuk dari dua polimer molekul glukosa yaitu amilosa (amylose) dan amilopektin (amylopectin). Amilosa merupakan polimer glukosa rantai panjang yang tidak bercabang sedangkan amilopektin merupakan polimer glukosa dengan susunan yang bercabangcabang (Irawan, 2007). Pati merupakan polimer yang tersusun dari unit satuan α-D-glukosa yang dihubungkan oleh ikatan α-1,4 glikosidik dan ikatan α-1,6 glikosidik pada percabangan rantainya. Secara alami, pati merupakan campuran dari amilosa dan amilopektin yang kedua-duanya merupakan suatu polimer dari α-D-glukosa (Sukandar, 2011).
Enzim adalah molekul biopolimer yang tersusun dari serangkaian asam amino dalam komposisi dan susunan rantai yang teratur dan tetap. Enzim memegang peranan penting dalam berbagai reaksi di dalam sel. Sebagai protein, enzim diproduksi dan digunakan oleh sel hidup untuk mengkatalisis reaksi, antara lain konversi energi dan metabolisme pertahanan sel (Anonim, 2011). Enzim meningkatkan laju reaksi sehingga terbentuk kesetimbangan kimia antara produk dan pereaksi. Pada keadaaan kesetimbangan, istilah pereaksi dan produk tidaklah pasti dan bergantung pada pandangan kita. Dalam keadaan fisiologi yang normal, suatu enzim tidak mempengaruhi jumlah produk dan pereaksi yang sebenarnya dicapai tanpa kehadiran enzim. Jadi, jika keadaan kesetimbangan tidak menguntungkan bagi pembentukan senyawa, enzim tidak dapat mengubahnya (Salisbury, 1995).
Suatu enzim dapat mempercepat reaksi 108 sampai 1011 kali lebih cepat daripada apabila reaksi tersebut dilakukan tanpa katalis. Jadi enzim dapat berfungsi sebagai katalis yang sangat efisien, disamping itu mempunyai derajat kekhasan yang tinggi. Seperti juga katalis lainnya, maka enzim dapat menurunkan energi aktiasi suatu reaksi enzim dapat menurunkan energi aktivasi suatu reaksi kimia. Reaksi kimia ada membutuhkan energi atau mengeluarkan energi (Poedjadi, 2006).
Cairan ludah adalah secretion1 eksokrin, 2 consistingof sekitar 99% air, yang mengandung berbagai elektrolit (natrium, kalium, kalsium, klorida, magnesium, bikarbonat, fosfat) dan protein, yang diwakili oleh enzim, immunoglobulin dan faktor antimikroba lainnya, glikoprotein mukosa, jejak albumin dan beberapa polipeptida dan oligopeptida yang penting bagi kesehatan mulut. Ada juga glukosa dan produk nitrogen, seperti urea dan ammonia.3, 4 Komponen berinteraksi dan bertanggung jawab atas berbagai fungsi dikaitkan dengan air liur. Air liur bertanggung jawab untuk pencernaan awal pati, mendukung pembentukan, makanan bolus.13 17 Tindakan ini terjadi terutama oleh adanya enzim pencernaan α-amilase (ptyalin) dalam komposisi air liur. Fungsi biologis adalah untuk membagi pati menjadi maltosa, maltotriosa, dan dekstrin. Enzim ini dianggap baik indikator kelenjar ludah berfungsi, 29 kontribusi 40% sampai 50% dari jumlah ludah protein yang dihasilkan oleh kelenjar. Semakin besar bagian dari enzim (80%) disintesis dalam parotids dan sisanya di submandibula kelenjar. Aksinya tidak aktif di bagian asam dari saluran pencernaan dan akibatnya terbatas pada mulut (Almeida, 2008).
Pengukuran aktivitas amilase dan glukanase dilakukan berdasar kepada kemampuan enzim tersebut dalam mengurai substrat (polisakarida) menjadi monosakarida dalam bentuk gula pereduksi, pada satuan waktu tertentu. Akurasi pengukuran dapat dicapai bila proses deteksi gula pereduksi berlangsung optimum. Reagen DNS yang digunakan dalam mengukur gula pereduksi terdiri dari asam dinitrosalisilat, garam Rochelle dan natrium hidroksida (Rahmansyah, 2003).
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fungsi enzim diantaranya adalah (Dwidjoseputro, 1992) :
 suhu
Oleh karena reaksi kimia itu dapat dipengaruhi suhu maka reaksi menggunakan katalis enzim dapat dipengaruhi oleh suhu. Di samping itu, karena enzim adalah suatu protein maka kenaikan suhu dapat menyebabkan denaturasi dan bagian aktig enzim akan terganggu sehingga konsentrasi dan kecepatan enzim berkurang.
b.      pH
Umumnya enzim efektifitas maksimum pada pH optimum, yang lazimnya berkisar antara pH 4,5-8.0. Pada pH yang terlalu tinggi atau terlalu rendah umumnya enzim menjadi non aktif secara irreversibel karena menjadi denaturasi protein.
c.       konsentrasi enzim
Seperti pada katalis lain, kecepatan suatu reaksi yang menggunakan enzim tergantung pada konsentrasi enzim tersebut. Pada suatu konsentrasi substrat tertentu, kecepatan reaksibertambah dengan bertambahnya konsentrasi enzim.
d.      konsentrasi substrat
Hasil eksperimen menunjukkan bahwa dengan konsentrasi substrat akan menaikkan kecepat reaksi. Akan tetapi, pada batas tertentu tidak terjadi kecepatan reaksi, walaupn konsenrasi substrat diperbesar.
e.       zat-zat penghambat
Hambatan atau inhibisi suatu reaksi akan berpengaruh terhadap penggabungan substrat pada bagian aktif yang mengalami hambatan.
Suatu enzim hanya dapat bekerja spesifik pada suatu substrat untuk suatu perubahan tertentu. Misalnya, sukrase akan menguraikan rafinosa menjadi melibiosa dan fruktosa, sedangkan oleh emulsin, rafinosa tersebut akan terurai menjadi sukrosa dan galaktosa (Salisbury dan Ross, 1995).

C.      ALAT DAN BAHAN
a)      Alat
Alat yang digunakan yaitu :
Tabung reaksi
Pipet tetes
Timbangan analitik
Gelas kimia 50 ml
Erlenmeyer
Gelas ukur 50 ml
Batang pengaduk
Cawan petri
Penangas air
Tissue
Spektrofotometer
Kuvet
Corong
Gegep
Kertas label

b)      Bahan
Bahan yang digunakan yaitu :
Saliva
NaOH
Reagen DNS
H2SO4 2M
Akuades
Pati 4%


D.      PROSEDUR KERJA
A)      PENGARUH SUHU TERHADAP AKTIVITAS ENZIM AMILASE.

Pati

-          Ditimbang 0,04 gram
-          Diencerkan dengan akuades hingga 10 ml
-          Dipipet masing-masing 0,5 ml
-          Dimasukan ke dalam tabung I,II, dan III
-          Ditambahkan akuades masing-masing 0,5 ml
-          Ditambahkan saliva masing-masing 1 ml
-          Diinkubasi masing-masing pada suhu 4; 37; 80 oC
-          Ditambahkan pereaksi DNS masing-masing 1 ml
-          Dikocok
-          Dipanaskan
-          Didinginkan dalam air dingin
-          Ditambahkan 8 ml akuades pada masing-masing tabung
-          Dikocok
-          Diukur absobansinya

Hasil ..?
















B)      PENGARUH KONSENTRASI SUBSTRAT TERHADAP AKTIVITAS ENZIM


-          Ditimbang 0,04 gram
-          Diencerkan dengan akuades hingga 10 ml
-          Dipipet masing-masing 1; 0,5; 0 ml
-          Dimasukan ke dalam tabung I,II, dan III
-          Ditambahkan akuades masing-masing 0;  0,5; 1 ml
-          Ditambahkan saliva masing-masing 1 ml
-          Diinkubasi masing-masing pada suhu 60 oC selama 15 menit
-          Ditambahkan pereaksi DNS masing-masing 1 ml
-          Dikocok
-          Dipanaskan selama 15 menit
-          Didinginkan dalam air dingin
-          Ditambahkan 8 ml akuades pada masing-masing tabung
-          Dikocok
-          Diukur absobansinya

Hasil ..?

Pati
















C)      PENGARUH PH TERHADAP AKTIVITAS AMILASE



-          Ditimbang 0,04 gram
-          Diencerkan dengan akuades hingga 10 ml
-          Dipipet masing-masing 1; 0,5; 0 ml
-          Dimasukan ke dalam tabung I,II, dan III
-          Ditambahkan akuades masing-masing 0;  0,5; 1 ml
-          Ditambahkan saliva masing-masing 1 ml
-          Diinkubasi masing-masing pada suhu 60 oC selama 15 menit
-          Ditambahkan pereaksi DNS masing-masing 1 ml
-          Dikocok
-          Dipanaskan selama 15 menit
-          Didinginkan dalam air dingin
-          Ditambahkan 8 ml akuades pada masing-masing tabung
-          Dikocok
-          Diukur absobansinya

Hasil ..?

Pati













D)     PENGARUH WAKTU INKUBASI TERHADAP AKTIVITAS AMILASE



-          Ditimbang 0,04 gram
-          Diencerkan dengan akuades hingga 10 ml
-          Dipipet masing-masing 1; 0,5; 0 ml
-          Dimasukan ke dalam tabung I,II, dan III
-          Ditambahkan akuades 0; 0,5; 1 ml
-          Ditambahkan saliva masing-masing 1 ml
-          Diinkubasi masing-masing pada suhu 37 oC pada waktu 0, 30 dan 60 menit
-          Dipipet 1 ml
-          Dimasukan ketabung
-          Ditambahkan pereaksi DNS masing-masing 1 ml
-          Dikocok
-          Dipanaskan selam 30 menit
-          Didinginkan dalam air dingin
-          Ditambahkan 8 ml akuades pada masing-masing tabung
-          Dikocok
-          Diukur absobansinya

Hasil ..?

Pati












E)      LARUTAN BLANKO

-          Dipipet
-          Dimasukan ke tabung reaksi
-          Ditambahkan 1 ml pereaksi DNS
-          Dipanaskan
-          Didinginkan
-          Ditambahkan 8 ml akuades
-          Dimasukan ke kuvet
-          Diukur absorbansinya

1 ml akuades

Hasil..?


E.     HASIL PENGAMATAN
1)      TABEL HASIL PENGAMATAN.
a)      Pengaruh Suhu Terhadap Aktivitas Enzim

Tabung
Pati 4%
Air (ml)
Saliva (ml)
Suhu inkubasi (oC)
Hasil
λ
1
0,5
0,5
1
4
Orange
0,17
2
0,5
0,5
1
37
Orange
0,02
3
0,5
0,5
1
80
Orange
0.016
b)     Pengaruh Konsentrasi Substrat Terhadap Aktivitas Enzim

Tabung
Pati 4% (ml)
Air (ml)
Saliva (ml)
Absorbansi
Konsentrasi
1
1
0
1
0,250
0,63 mol/l
2
0,5
0,5
1
0,126
3,19 mol/l
3
0
1
1
0,192
4,87mol/l



c)      Pengaruh Waktu Inkubasi Terhadap Aktivitas Enzim

Tabung
Waktu Inkubasi (menit)
Absorbansi
1
0
0,06
2
30
0,202
3
60
0,61



d)     Pengaruh pH Terhadap Aktivitas Enzim
No.
Sampel
Absorbansi
1.
Tabung I (Air)
0,061 A
2.
Tabung II (+NaOH)
0,027 A
3.
Tabung III (+H2SO4)
-0,072 A



e)      Tabel standar glukosa

Glukosa mg/ml
0
2
4
6
8
10
Absorbansi
0
0,078
0,134
0,285
0,294
0,390

2)      KURVA STANDAR GLUKOSA











3)      PERHITUNGAN KONSENTRASI SUBSTRAT

Dari kurva diperoleh persamaan : y = 0,0393x + 0,0005, sehingga :

Untuk absorbansi 0,250 A, konsentrasi amilasennya adalah :
0,250=0,0393x+0,0005
x= 0,250-0,00050,0393
x=6,34 mg/ml
  konsentrasi substrat pada absorbansi 0,250 A adalah 6,34 mg/ml

Untuk absorbansi 0,126 A, konsentrasi amilasennya adalah :
0,126=0,0393x+0,0005
x= 0,126-0,00050,393
x=3,19 mol/l
  konsentrasi substrat pada absorbansi 0,126 A adalah 3,19 mol/l

Untuk absorbansi 0,192 A, konsentrasi amilasennya adalah :
0,126=0,0393x+0,0005
x= 0,192-0,00050,393
x=4,87 mol/l
  konsentrasi substrat pada absorbansi 0,126 A adalah 4,87 mol/l

F.       PEMBAHASAN
Pati merupakan jenis polisakarida yang tersusun atas amilosa dan amilopektin. Perbedaan amilosa dna amilopektin terletak pada ikatan OH glikosidik penyusunnya. Dalam tubuh manusia, pemecahan karbohidrat pertama kali terjadi pada mulut, dimana pada mulut terdapat air liur yang mengandung enzim amilase. Enzim amilase khususnya enzim   amilase merupakan enzim yang dapat memecah pati menjadi glukosa dengan memutuskan ikatan glikosidik penyusun pati. Glukosa hasil hidrolisis ini digunakan oleh tubuh sebagai sumber energi utama. Enzim bersifat sebagai biokatalisator reaksi kimia, dimana enzim dapat mempercepat reaksi kimia dengan energi yang tidak sebanyak kebutuhan energi pada reaksi tanpa enzim. Kecepatan reaksi enzim ini dipengaruhi oleh beberapa faktor dan beberapa diantaranya yaitu pH, konsentrasi dan suhu.
Pada percobaan ini dilakukan pengujian aktivitas enzim amilase pada saliva  terhadap pH, suhu, konsentrasi substrat, dan waktu inkubasi yang dibuat bervariasi. Percobaan ini diawali dengan pengenceran pati dengan menggunakan akuades, setelah itu dicampurkan dengan sejumlah saliva lalu diinkubasi. Reaksi enzimatis terjadi pada saat larutan diinkubasi pada suhu tertentu. Hasil inkubasi ditambahkan sejumlah indikator DNS dan dipanaskan. Fungsi penambahan DNS adalah untuk memberikan reaksi kompleks yang membantu dalam pengukuran absorbansi larutan pada spektrofotometer dan berfungsi menghentikan kerja enzim, sehingga enzim tidak memecah pati. Tujuan pemanasan adalah untuk mengoptimalkan kerja DNS dan mempercepat reaksi dari DNS untuk menghentikan kerja enzim.  Hasil pemanasan kemudian didinginkan, dimana tujuan pendinginan untuk menghilangkan DNS yang telah digunakan untuk menghentikan reaksi asam sulfat.  Lalu larutan diencerkan dengan sejumlah akuades yang bertujuan untuk mengurangi intensitas warna dari indikator DNS agar diperoleh hasil yang akurat dan diukur absorbansi larutan.
Prinsip kerja dari pengujian aktivitas enzim ini yaitu menggunakan faktor-faktor yang mempengaruhi kerja enzim untuk menguji aktivitas kerja enzim amilase saliva terhadap pati sagu. Pengukuran ini berdasarkan pada perubahan laju reaksi yang ditunjukan enzim amilase terhadap pH, konsentrasi, suhu dan waktu inkubasi yang dibat bervariasi. Laju reaksi sebanding dengan konsentrasi sehingga aktivitas enzim amilase dapat ditinjau dari konsentrasi atau kadar dari enzim setelah diberikan perlakuan.
Uji pertama yaitu uji pengaruh konsentrasi substrat terhadap aktivitas enzim amilase. Seperti yang diketahui, konsentrasi substrat dapat mempengaruhi kerja enzim, dimana hubungan konsetrasi terhadap kerja enzim berbanding lurus. Dengan kata lain, tingginya konsentrasi substrat akan meninggikan aktivitas enzim. Pada literatur dijelaskan bila jumlah enzim dalam keadaan tetap, kecepatan reaksi akan meningkat dengan adanya peningkatan konsentrasi substrat. Namun, pada tabel data hasil percobaan, konsentrasi yang diperoleh dari hasil plot glukosa standar tidak sebanding dengan banyak ml pati yang digunakan pada reaksi enzimatis ini. Pada pati 1 ml memiliki kadar amilase yang lebih rendah dibandingkan pada pati 0%. Dimana seharusnya kadar amilase meningkat dengan semakin banyaknya jumlah gram substrat yang digunakan. Hal ini dapat dipengaruhi oleh kualitas pati yang tidak 100% pati dan kesalahan data ini dapat pula disebabkan oleh kelalaian praktikan pada saat pelabelan larutan yang akan diabsorbansi.
Selanjutnya dilakukan pengujiaan pengaruh suhu terhadap aktivitas enzim. Seperti yang diketahui, enzim tersusun atas asama amino sehingga sifat kimia dan fisiknya akan diturunkan dari asam amino. Pada suhu rendah enzim tidak aktif sehingga tidak dapat bereaksi dengan substrat sedangkan pada suhu tinggi enzim akan mengalami kerusakan pada sisi aktifnya atau terdenaturasi. Pada literatur disebutkan suhu optimum enzim yaitu 30-40oC dan akan mengalami denaturasi diatas suhu 60oC. Berdasarkan hal tersebut, maka seharusnya hasil yang diperoleh pada percobaan ini adalah absorbansi dan konsentrasi amilase pada suhu 37oC akan lebih besar bila dibandingkan dengan absorbansi dan konsentrasi amilase pada suhu 4 dan 80 oC. Namun, pada tabel hubungan suhu terhadap kadar, pada suhu 4oC lah kerja enzim meningkat yang ditandai dengan tingginya kadar amilase yang diperoleh dan kerja enzim menurun seiring bertambahnya suhu hingga mencapai suhu 80oC. Pada suhu 80oC, enzim akan mengalami kerusakan struktur sekunder, tersier dan kuarter pada area sisi aktifnya sehingga tidak dapat berikatan dengan substrat dan frekuensi tumbukan antar partikel berkurang oleh kerusakan enzim ini sehingga menurunkan laju reaksi enzim.
Pada data hasil pengujian pengaruh pH terhadap aktivitas enzim terlihat yaitu pada sampel yang ditambahkan sejumlah air memiliki absorbansi yang lebih tinggi dibandingkan absorbansi yang dihasilkan dari penambahan NaOH dan H2SO4. Hasil ini telah sesuai dengan teori. Enzim akan optimum kerjanya apabila berada pada suhu netral. Air merupakan senyawa dengan pH netral yaitu kurang lebih pH=7, sedangkan NaOH dan H2SO4 merupakan senyawa basa dan asam. Menurut arrhenius, dikatakan asam apabila dilarutkan dalam air akan mneghasilkan H+ sedangkan dikatakan basa apabila dilarutkan dalam air menghasilkan OH-. Pada suasana asam atau basa, aktivitas enzim akan menurun yang disebabkan oleh rusaknya sisi aktif enzim pengaruh ion H+ atau OH- dari senyawa asam dan basa. Ion-ion ini yang mempengaruhi gugus alkil dari asam amino penyusun enzim. Seperti yang diketahui, asam amino tersusun atas gugus amino, gugus alkil, gugus karboksil dan atom H. Berdasarkan gugus alkilnya (R) asam amino diklasifikasikan menjadi beberapa jenis dan salah satunya yaitu asam dan basa. Maka ketika asam atau basa ditambahkan pada larutan yang mengandung asam amino maka gugus alkil (R) asam amino yang bersifat asam-basa akan meberikatan dengan H – OH dari asam basa yang ditambahkan. Tentu saja gugus alkil (R) asam amino yang bersifat asam akan berikatan dengan OH- yang diperoleh dari basa yang ditambahkan, begitu pula dengan ketika bagian alkil asam amino yang bersifat basa bertemu dengan H+ dari asam yang ditambahkan. ikatan yang dibentuk inilah yang merubah sisi aktif dari enzim sehingga frekuensi tumbukan partikel berkurang yang menyebabkan laju reaksi enzim lemah atau rendah.
Uji terakhir yaitu pengaruh waktu inkubasi terhadap aktivitas amilase. Enzim mulai bekerja pada saat diinkubasi. Semakin lama waktu inkubasi semakin efektif kerja dari enzim, namun tidak selamanya semakin lama waktu inkubasi dapat meningkatkan kerja enzim. Enzim akan berhenti bekerja apabila telah mencapai masa jenuhnya. Masa jenuh ini terjadi apabila enzim telah berikatan dengan substrat. pada tabel hasil percobaan waktu terhadap kadar menunjukan dari waktu 0 menit sampai 60 menit terjadi peningkatan kerja enzim. Pada waktu 0 menit, tumbukan partikel baru dimulai sehingga frekuensi tumbukan masih berkurang namun seiiring bertambahnya waktu tumbukan akan semakin kuat karena adanya gerakan zigzag atau dalam istilah koloid gerak brown yang terjadi pada partikel. Gsemakin besar frekuensi tumbukan yang terjadi memperbesar laju reaksi enzim.


G.      KESIMPULAN
Berdasarkan hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa aktivitas enzim dipengaruhi oleh pH, suhu, waktu inkubasi dan konsentrasi substrat. Untuk menguji aktivitas enzim dapat dilakukan dengan menggunakan pereaksi DNS.

DAFTAR PUSTAKA

Almeida. P.D.V.D., Gregio. AMT., Macahado. M.A.N., Soares de lima. A.A., Luciana.R.A. 2008. Saliva Compesition and Function : A comprehensive Review. Journal of Comtemporary Dental PracticeVol.9. No.3.

Anonim, 2011, Enzim, http://id.shvoong.com/exact-sciences/biochemistry/2200855-jenis-jenis-enzim/#ixzz1gXpopTUI, diakses pada tanggal 29 November 2012.


Murray, R.K., Daryl K.G., Victor W.R., 2009, Biokimia Harper Edisi 27, EGC, Jakarta.
Poedjadi, A., F.M Titin.S., 2006. Dasar-Dasar Biokimia. UI-Press. Jakarta.

Rahmansyah. M., I Made. S. 2003. Optimasi Analisis Amilase dan Glukanase Yang Diekstrak Dari Miselium Pleutotus ostrerotus Dengan Asam 3,5 Dinitrosalisilat. Jurnal PenelitianVol.9. No.7.

Salisbury, F.B., dan C.W. Ross, 1995, Fisiologi Tumbuhan Jilid 2, ITB Press, Bandung.

Sukandar.U., Achmad. AS., Lindawati., Yadi.T. 2011. Sakarifikasi Pati Ubi Kayu Menggunakan Amilase Aspergilus Niger ITB CCL74. Jurnal Teknik Kimia IndonesiaVol. 10 No. 1.


BAB I
PENDAHULUAN

I.1  LATAR BELAKANG
Rabun ayam (nyctalopia) atau lebih dikenal dengan rabun senja adalah sebuah penyakit mata yang disebabkan oleh kerusakan sel retina yang semestinya bekerja saat melihat benda pada lingkungan minim cahaya, yang menyebabkan penderitanya kesulitan melihat jika kekurangan sumber cahaya. Rabun ayam ini bisa menjadi suatu hal yang paling buruk dalam kehidupan manusia, selain kekurangan daya penglihatan pada suasana gelap, hal ini juga dapat mengurangi kualitas hidup penderitanya. Karena pada hakikatnya manusia harus tetap melakukan aktivitas walaupun pada malam hari. Banyak hal yang dapat menyebabkan kerusakan sel tersebut, tetapi yang paling sering akibat dari kekurangan vitamin A.
Kekurangan vitamin A disebabkan oleh rendahnya asupan buah dan sayuran yang mengandung beta-karoten, seperti wortel, mangga, bayam, ubi jalar, yang diubah tubuh menjadi vitamin A. Selain itu, vitamin A juga dapat ditemukan pada hewan seperti pada daging ayam, ginjal domba, daging bebek, hati ayam, hati sapi, ikan, dan telur. Kekurangan vitamin A ini, dapat di cegah dengan mengonsumsi vitamin A, namun mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin A dengan waktu yang tidak kostan saja tidak cukup, karena pada tumbuhan dan juga sumber vitamin A yang lainnya tidak mampu memenuhi kebutuhan tubuh. Sehingga dianjurkan untuk mengonsumsi sumber-sumber vitamin A secara sering, agar dapat menyeimbangi kebutuhan tubuh.
Wortel merupakan salah satu buah yang banyak digunakan sebagai sumber vitamin A. Kandungan beta karoten yang dapat diubah menjadi vitamin A pada wortel ini dapat mencegah kekurangan asupan vitamin A pada mata. Selain wortel, sayuran hijau juga banyak digunakan sebagai sumber vitamin. sayur- sayuran yang digunakan sebagai sumber vitamin ini telah banyak diketahui, namun tidak banyak yang mengetahui bahwa kelor atau yang dikenal dengan nama latin Moringa oleifera juga dapat dimasukan sebagai sumber vitamin A yang bagus untuk kesehatan mata. Tumbuhan ini banyak tumbuh liar pada daerah-daerah dengan intensitas curah hujan sedang atau tropis. Pengetahuan masyarakat mengenai manfaat kelor terbatas pada fosfor nya saja.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Adapun rumusan masalah pada makalah ini yaitu :
Bagaimana susunan klasifikasi dan morfologi tumbuhan kelor & wortel?
Apa saja Kandungan kimia dalam kelor& wortel serta kandungan yang sama pada masing-masing tumbuhan?
Apa penyakit rabun senja itu?
Apa penyebab rabun senja ?
Bagaimana vitamin A mengobati rabun senja?
Bagaimana mengelola wortel dan kelor secara tradisional untuk konsumsi vitamin A sehari-hari?
1.3 TUJUAN
Adapun tujuan yang ingin dicapai, yaitu :
Dapat menjelaskan susunan klasifikasi dan morfologi kelor & wortel
Dapat menjabarkan kandungan kimia dalam wortel & kelor, serta kesamaan kandungan pada ketiga tumbuhan.
Dapat menjelaskan penyakit rabun senja.
Dapat menjelaskan penyebab rabun senja
Dapat menjelaskan proses vitamin A dalam mengobati rabun senja.
Dapat memberikan cara pengolahan wortel dan kelor secara tradisional untuk konsumsi vitamin A sehari-hari.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    SUSUNAN KLASIFIKASI & MORFOLOGI
Wortel
Daucus carota L.

Asal :
Wortel atau Carrot (Daucus carota L.) bukan tanaman asli Indonesia,melainkan berasal dari luar negeri yang beriklim sedang (sub tropis). Menurut sejarahnya, tanaman wortel berasal dari Timur Dekat dan Asia Tengah. Tanaman ini ditemukan tumbuh liar sekitar 6.500 tahun yang lalu.
Ekologi :
Wortel umumnya ditanam di dataran tinggi pada ketinggian antara 1000-1200 meter di atas permukaan laut (mdpl). Meskipun demikian wortel dapat pula ditanam di dataran medium yang ketinggiannya lebih dari 500 mdpl, namun produksidan kualitasnya kurang memuaskan. Tanaman wortel membutuhkan lingkungan tumbuh yang suhu udaranya dingin dan lembab. Untuk pertumbuhan dan produksi umbi yang optimal membutuhkan suhu udara antara 15,6° – 21,1°C. Tanaman ini dapat tumbuh baik pada keasaman tanah (pH) antara 5,5-6,5 untuk hasil optimal diperlukan pH 6,0-6,8.
Klasifikasi :
Kingdom: Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom: Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi: Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi: Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas: Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas: Rosidae
Ordo: Apiales
Famili: Apiaceae
Genus: Daucus
Spesies: Daucus carota L.
Morfologi :

1)      Daun
Daun wortel bersifat majemuk menyirip ganda dua atau tiga, anak-anak daun berbentuk lanset (garis-garis). Setiap tanaman memiliki 5-7 tangkai daun yang berukuran agak panjang. Tangkai daun kaku dan tebal dengan permukaan yang halus, sedangkan helaian daun lemas dan tipis.
2)      Batang.
Batang tanaman wortel sangat pendek sehingga hampir tidak nampak, batang bulat, tidakberkayu, agak keras, dan berdiameter kecil (sekitar 1-1,5 cm). Pada umumnya batang berwarna hijau tua. Batang tanaman tidak bercabang, namun ditumbuhi oleh tangkaidaun yang berukuran panjang, sehingga kelihatan seperti bercabang.
3)      Akar.
Tanaman wortel memiliki sistem perakaran tunggang dan serabut. Dalam pertumbuhannya akar tunggang akan mengalami perubahan bentuk dan fungsi menjadi tempat penyimpanan cadangan makanan. Bentuk akar akan berubah menjadi besar dan bulat memanjang, hingga mencapai diameter 6 cm dan panjang sampai 30 cm, tergantung varietasnya. Akar tunggang yang telah berubah bentuk dan fungsi inilah yang sering disebut atau dikenal sebagai “Umbi Wortel”.
4)      Bunga.
Bunga tanaman wortel tumbuh pada ujung tanaman, berbentuk payung berganda, dan berwarna putih atau merah jambu agak pucat. Bunga memiliki tangkai yang pendek dan tebal. Kuntum-kuntum bunga terletak pada bidang yang sama. Bunga wortel yang telah mengalami penyerbukan akan menghasilkan buah dan biji-biji yang berukuran kecil dan berbulu.
5)      Umbi.
Wortel merupakan tanaman sayuran umbi semusim, berbentuk semak yang dapat tumbuh sepanjang tahun, baik pada musim hujan maupun kemarau. Batangnya pendek dan berakar tunggang yang fungsinya berubah menjadi bulat dan memanjang. Warna umbi kuning kemerah-merahan, mempunyai karoten A yang sangat tinggi, Umbi wortel juga mengandung vitamin B, Vitamin c dan mineral.
Pada awalnya hanya dikenal beberapa varietas wortel, namun dengan berkembangnya peradaban manusia dan teknologi, saat ini telah ditemukan varietas-varietas baru yang lebih unggul daripada generasi-generasi sebelumnya. Varietas-varietas wortel terbagi menjadi tiga kelompok yang didasarkan pada bentuk umbi, yaitu tipe Imperator, Chantenay, dan Nantes.
Tipe Imperator memiliki umbi berbentuk bulat panjang dengan ujung runcing (menyerupai kerucut), panjang umbi 20-30 cm, dan rasa yang kurang manis sehingga kurang disukai oleh konsumen.
Tipe Chantenay memiliki umbi berbentuk bulat panjang dengan ujung tumpul, panjang antara 15-20 cm, dan rasa yang manis sehingga disukai oleh konsumen.
Tipe Nantes memiliki umbi berbentuk peralihan antara tipe Imperator dan tipe Chantenay, yaitu bulat pendek dengan ukuran panjang 5-6 cm atau berbentuk bulat agak panjang dengan ukuran panjang 10-15 cm.
Dari ketiga kelompok tersebut, varietas yang termasuk ke dalam kelompok chantenay yang dapat memberikan hasil (produksi) paling baik, sehingga paling banyak dikembangkan.
Kandungan Zat Aktif :
Tabel Nilai Kandungan gizi Wortel per 100 g
Kandungan zat gizi
Jumlah
Energi
41 kkal
Karbohidrat
9 gr
Gula
5 gr
Niacin (Vit. B3)
1,2 mg (8%)
Vitamin B6
0,1 mg (8%)
Folat (Vit. B9)
19 mg (5%)
Diet serat
3 g
Lemak
0,2 g
Vitamin C
7 mg (12%)
Kalsium
33 mg (3%)
Protein
1 g
Vitamin A
835 mg (93%)
Besi
0,66 mg (5%)
Magnesium
18 mg (5%)
Beta-karoten
8285 mg (77%)
Fosfor
35 mg (5%)
Thiamine (Vit. B1)
0,04 mg (3%)
Kalium
240 mg (5%)
Riboflavin (Vit. B2)
0,05 mg (3%)
Sodium
2,4 mg (0%)

Kelor
Moringa oleifera Lam
Klasifikasi :
Kingdom
         :           Plantae (Tumbuhan)
Subkingdom
    :           Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh)
Super Divisi
    :           Spermatophyta (Menghasilkan biji)
Divisi
               :           Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga)
Kelas
               :           Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil)
Sub Kelas
        :           Dilleniidae
Ordo
                :           Capparales
Famili
              :           Moringaceae
Genus
              :           Moringa
Spesies
            :           Moringa oleifera Lam

Morfologi :
1)  Akar (radix)
Akar tunggang, berwarna putih. Kulit akar berasa dan berbau tajam dan pedas, dari dalam berwarna kuning pucat, bergaris halus, tetapi terang dan melintang. Tidak keras, bentuk tidak beraturan, permukaan luar kulit agak licin, permukaan dalam agak berserabut, bagian kayu warna cokelat muda, atau krem berserabut, sebagian besar terpisah. Akar tunggang berwarna putih, membesar seperti lobak.
Biji yang ditanam akan mengembang menjadi bonggol, membengkak, akar tunggang berwarna putih dan memiliki bau tajam yang khas. Pohon tumbuh dari biji akan memiliki perakaran yang dalam, membentuk akar tunggang yang lebar dan serabut yang tebal. Akar tunggang tidak terbentuk pada pohon yang diperbanyak dengan stek.
2)  Batang (caulis)
Kelor termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 7 – 12 meter. Merupakan tumbuhan yang berbatang dan termasuk jenis batang berkayu, sehingga batangnya keras dan kuat. Bentuknya sendiri adalah bulat (teres) dan permukaannya kasar.Arah tumbuhnya lurus ke atas atau biasa yang disebut dengan tegak lurus (erectus). Percabangan pada batangnya merupakan cara percabangan simpodial dimana batang pokok sukar ditentukan, karena dalam perkembangan selanjutnya mungkin lalu menghentikan pertumbuhannya atau kalah besar dan kalah cepat pertumbuhannya dibandingkan cabangnya. Arah percabangannya tegak (fastigiatus) karena sudut antara batang dan cabang amat kecil, sehingga arah tumbuh cabang hanya pada pangkalnya saja sedikit lebih serong ke atas, tetapi selanjutnya hampir sejajar dengan batang pokoknya.
3)  Daun (folium)
Daun majemuk, bertangkai panjang, tersusun berseling (alternate), beranak daun gasal (imparipinnatus), helai daun saat muda berwarna hijau muda – setelah dewasa hijau tua, bentuk helai daun bulat telur, panjang 1 – 2 cm, lebar 1 – 2 cm, tipis lemas, ujung dan pangkal tumpul (obtusus), tepi rata, susunan pertulangan menyirip (pinnate), permukaan atas dan bawah halus.
Merupakan jenis daun bertangkai karena hanya terdiri atas tangkai dan helaian saja. Tangkai daun berbentuk silinder dengan sisi atas agak pipih, menebal pada pangkalnya dan permukaannya halus. Bangun daunnya berbentuk bulat atau bundar (orbicularis), pangkal daunnya tidak bertoreh dan termasuk ke dalam bentuk bangun bulat telur.
 Ujung dan pangkal daunnya membulat (rotundatus) diamana ujungnya tumpul dan tidak membentuk sudut sama sekali, hingga ujung daun merupakan semacam suatu busur.
Susunan tulang daunnya menyirip (penninervis), dimana daun kelor mempunyai satu ibu tulang yang berjalan dari pangkal ke ujung, dan merupakan terusan tangkai daun. Selain itu, dari ibu tulang itu ke arah samping keluar tulang–tulang cabang, sehingga susunannya mengingatkan kita kepada susunan sirip – sirip pada ikan. Kelor mempunyai tepi daun yang rata (integer) dan helaian daunnya tipis dan lunak. Berwarna hijau tua atau hijau kecoklatan, permukaannya licin(laevis) dan berselaput lilin (pruinosus). Merupakan daun majemuk  menyirip gasal rangkap tiga tidak sempurna.
4)  Bunga
Bunga muncul di ketiak daun (axillaris), bertangkai panjang, kelopak berwarna putih agak krem, menebar aroma khas.  Bunganya berwarna putih kekuning-kuningan terkumpul dalam pucuk lembaga di bagian ketiak dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Malai terkulai 10 – 15 cm, memiliki 5 kelopak yang mengelilingi 5 benang sari dan 5 staminodia. Bunga Kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak.
5)  Buah atau Polong
Kelor berbuah setelah berumur 12 – 18 bulan. Buah atau polong Kelor berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang (Jawa) dengan panjang 20 – 60 cm, ketika muda berwarna hijau – setelah tua menjadi cokelat, biji didalam polong berbentuk bulat, ketika muda berwarna hijau terang dan berubah berwarna coklat kehitaman ketika polong matang dan kering. Ketika kering polong membuka menjadi 3 bagian. Dalam setiap polong rata-rata berisi antara 12 dan 35 biji.
6)  Biji
Biji berbentuk bulat dengan lambung semi-permeabel berwarna kecoklatan.  Lambung sendiri memiliki tiga sayap putih yang menjalar dari atas ke bawah.  Setiap pohon dapat menghasilkan antara 15.000 dan 25.000 biji/tahun. Berat rata-rata per biji adalah 0,3 g.
Ekologi :
Kelor (Moringa oleifera) merupakan salah satu tumbuhan yang umumnya dapat hidup dengan baik di daerah tropis dengan kadar ph yang rendah dimana memiliki suasan asam yaitu ph kurang dari 3. Tumbuh di dataran rendah maupun dataran tinggi sampai di ketinggian ± 1000 m dpl.

Kandungan Zat Aktif :
Daun Kelor Segar
Sejumlah hasil penelitian menunjukkan bahwa daun kelor mempunyai kandungan asam amino dan vitamin yang lengkap serta kandungan mineral yang tinggi. Kandungan gizi daun kelor segar (lalapan),  setara dengan; 4x vitamin A yang dikandung wortel,  7x vitamin C yang terkandung pada jeruk, 4x mineral Calsium dari susu, 3x mineral Potassium pada pisang, 3/4x zat besi pada bayam, dan 2x protein dari yogurt. 
Daun Kelor Kering
Apabila daun kelor dikeringkan (di dalam ruangan) dan ditumbuk, maka nutrisinya dapat meningkat berkali-kali lipat, kecuali kandungan vitamin C-nya. Adapun perbandingan kandungan gizi daun kelor segar dengan yang dikeringkan adalah sebagai berikut :
























A.    Vitamin
Vitamin A (Alpha & Beta-carotene), B, B1, B2, B3, B5, B6, B12, C, D, E, K, folat (asam folat), Biotin.
B.     Mineral
Kalsium, Kromium, Tembaga, Fluorin, Besi, Mangan, Magnesium, Molybdenum, Fosfor, Kalium, Sodium, Selenium, Sulphur, Zinc.
C.    Asam Amino Esensial
Isoleusin, Leusin, Lisin, Metionin, Fenilalanin, Treonin, Triptofan, Valin.

D.    Asam Amino Non-Esensial
Alanin, Arginine, asam aspartat, sistin, Glutamin, Glycine, Histidine, Proline, Serine, Tyrosine.
E.     Anti-inflammatory
Vitamin A, Vitamin B1 (Thiamin), Vitamin C, Vitamin E, Arginine, Beta-sitosterol, Caffeoylquinic Acid, Calcium, Chlorophyll, Copper, Cystine, Omega 3, Omega 6, Omega 9, Fiber, Glutathione, Histidine, Indole Acetic Acid, Indoleacetonitrile, Isoleucine, Kaempferal, Leucine, Magnesium, Oleic-Acid, Phenylalanine, Potassium, Quercetin, Rutin, Selenium, Stigmasterol, Sulfur, Tryptophan, Tyrosine, Zeatin, Zinc.

Baik pada wortel dan juga kelor, sama-sama memiliki ; vitamin A,  B1, B2, B3, C, kalsium, magnesium dan fosfor. Namun pada makalah ini yang dititik beratkan pada kandungan vitamin A pada kedua jenis tumbuhan ini.



A.  RABUN SENJA.
1.      Pengertian
     Rabun senja (nyctalopia) adalah gangguan penglihatan kala senja atau malam hari, atau pada keadaan cahaya remang-remang. 
2.      Penyebab
Rabun senja terjadi karena kerusakan sel retina yang semestinya bekerja saat melihat benda padalingkungan minim cahaya. Banyak hal yang dapat menyebabkan kerusakan sel tersebut, tetapi yang paling sering akibat dari kekurangan vitamin A.
3.      Terjadinya Rabun Senja
 Pada mata normal terdapat pigmen yang dikenal bernama rodopsinatau visual puple. Pigmen tersebut mengandung vitamin A yang terikat pada protein. Jika mata menerima cahaya, maka akan terjadi konversi rodopsin menjadi visual yellow dan kemudian visual white. Pada konversi tersebut, dibutuhkan vitamin A.
Sementara regenerasi visual purple hanya akan terjadi bila tersedia vitamin A. Tanpa regenerasi, maka penglihatan pada cahaya remang setelah mata menerima cahaya akan terganggu. Jika terjadi kekurangan vitamin A, maka gejala awal adalah terjadinya rabun senja. Artinya, mata akan mengalami gangguan ketika berpindah dari tempat banyak cahaya ke tempat gelap.
Itulah yang membuat rabun senja hanya terjadi ketika matahari mulai terbenam. Sesuai dengan namanya, penyakit ini tidak bisa dikoreksi dengan kacamata dan terjadi jika sel-sel saraf pembeda terang-gelap di retina mata terganggu.



4.      Penyembuhan .
Untuk pencegahan dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin A setiap harinya. Untuk pengobatan, dapat disembuhkan dengan pemberian vitamin A, namun untuk rabun senja dengan defisiensi yang lebih sulit untuk diobati. Untuk defisiensi yang lebih diberikan vitamin A secara injeksi sebanyak 100.000 unit untuk satu kali pemberian.
B.     BAGAIMANA VITAMIN A MENGOBATI PENYAKIT RABUN AYAM.
Vitamin A pada makanan awalnya berada dalam bentuk retinol ester dan sebelum diserap dalam pencernaan diubah menjadi retinol. Dari mukosa sel retinol tersebut diesterfikasi[1] kembali, kemudian diangkut oleh khilomikron,[2] dibawa ke hati untuk disimpan.
 Bentuk aktif vitamin A sebagian berupa asam retinoat yang akan berperan dalam ekspresi gen. Di retina mata, retinol ini diubah menjadi 11 cis retinal-dehida yang mampu berkonyugasi dengan opsin membentukrhodopsin yang berperan dalam proses penglihatan. Maka, mata memang sangat membutuhkan kehadiran vitamin A.
C.    PENGOLAHAN WORTEL & KELOR TRADISIONAL UNTUK MENGOBATI RABUN SENJA.
Kelor :Tiga tangkai daun kelor ditumbuk halus, seduh dengan 1 cangkir air masak dan disaring, campurkan dengan madu dan aduk sampai merata, minum sebelum tidur. Selain itu kelor pula dapat di makan sebagai lalapan dan juga dijadikan sayur mayur pendamping nasi.
Wortel : dapat dimakan langsung atau di jus, kandungan vitamin nya tetap. Selain itu dapat diolah menjadi sayur.


D.    PENYEBAB KANDUNGAN KELOR DAN WORTEL SAMA :
Bila ditilik kembali kesamaan kandungan kimia dari kedua tumbuhan ini yaitu terletak pada kandungan vitamin nya. Penyebab terdapat kesamaan zat aktif (vitamin A) pada wortel dan kelor, yaitu karena metabolik primer tumbuhan. Metabolik primer adalah unsur esensial yang digunakan untuk pertumbuhan. Metabolik primer menghasilkan produk anabolik dan produk katabolik. Vitamin merupakan produk anabolik. Metaabolik primer terdapat disemua tumbuhan sebagai kandungan dasar yang bila tidak ada dapat menyebabkan kematian pada tumbuhan. Berhubung dengan hal ini, vitamin A yang terdapat pada kelor dan wortel merupakan contoh dari metabolik primer yang terdapat pada tumbuhan.


PENUTUP

KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil :
1.      Pada susunan taksonomi, kelor dan wortel berada pada divisi, super divisi dan kelas yang sama, yaitu untuk divisi magnoliophyta (tumbuhan berbunga), super divisi spermatophyta (menghasilkan biji), dan kelas magnoliopsida (berkeping dua).
2.      Kesamaan morfologi wortel dna juga kelor yaitu terletak pada daun, dimana sama-sama berdaun majemuk, dan tulang daun menyirip.
3.      Rabun senja yaitu penyakit ketidak mampuan mata untuk melihat pada saat cahaya minim.
4.      Rabun senja di sebabkan oleh banyak faktor tetapi yang paling sering terjadi karena kekurangan vitamin A.
5.      Wortel dapat dibikin dalam bentuk jus atau dijadikan sebagai lalapan, sedangkan kelor dapat diserbuk dan diseduh layaknya teh



Keliat, S. D. 2008. Analisis Sistem Pemasaran Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.
Manalu, H. 2007. Analisis Finansial Usaha Tani Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.
Pohan, R. A. 2008. Analisis Usaha Tani dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.
Rini, D. K. 2010. Respon Penawaran Wortel (Daucus carota) Di Kabupaten Boyolali. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Simbolon JM, Sitorus M, Katharina N. 2008. Cegah Malnutrisi dengan Kelor. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

[1]Diesterifikasi adalah proses perubahan kembali dalam bentuk ester.
[2] kilomikron adalah suatu zat yang memiliki fungsi membawa energi dalam bentuk lemak ke otot.

A.    Vitamin
Vitamin A (Alpha & Beta-carotene), B, B1, B2, B3, B5, B6, B12, C, D, E, K, folat (asam folat), Biotin.
B.     Mineral
Kalsium, Kromium, Tembaga, Fluorin, Besi, Mangan, Magnesium, Molybdenum, Fosfor, Kalium, Sodium, Selenium, Sulphur, Zinc.
C.    Asam Amino Esensial
Isoleusin, Leusin, Lisin, Metionin, Fenilalanin, Treonin, Triptofan, Valin.

D.    Asam Amino Non-Esensial
Alanin, Arginine, asam aspartat, sistin, Glutamin, Glycine, Histidine, Proline, Serine, Tyrosine.
E.     Anti-inflammatory
Vitamin A, Vitamin B1 (Thiamin), Vitamin C, Vitamin E, Arginine, Beta-sitosterol, Caffeoylquinic Acid, Calcium, Chlorophyll, Copper, Cystine, Omega 3, Omega 6, Omega 9, Fiber, Glutathione, Histidine, Indole Acetic Acid, Indoleacetonitrile, Isoleucine, Kaempferal, Leucine, Magnesium, Oleic-Acid, Phenylalanine, Potassium, Quercetin, Rutin, Selenium, Stigmasterol, Sulfur, Tryptophan, Tyrosine, Zeatin, Zinc.

Kesamaan Zat Aktif :
Baik pada wortel dan juga kelor, sama-sama memiliki ; vitamin A,  B1, B2, B3, C, kalsium, magnesium dan fosfor. Namun pada makalah ini yang dititik beratkan pada kandungan vitamin A pada kedua jenis tumbuhan ini.



A.  RABUN SENJA.
1.      Pengertian
     Rabun senja (nyctalopia) adalah gangguan penglihatan kala senja atau malam hari, atau pada keadaan cahaya remang-remang. 
2.      Penyebab
Rabun senja terjadi karena kerusakan sel retina yang semestinya bekerja saat melihat benda padalingkungan minim cahaya. Banyak hal yang dapat menyebabkan kerusakan sel tersebut, tetapi yang paling sering akibat dari kekurangan vitamin A.
3.      Terjadinya Rabun Senja
 Pada mata normal terdapat pigmen yang dikenal bernama rodopsinatau visual puple. Pigmen tersebut mengandung vitamin A yang terikat pada protein. Jika mata menerima cahaya, maka akan terjadi konversi rodopsin menjadi visual yellow dan kemudian visual white. Pada konversi tersebut, dibutuhkan vitamin A.
Sementara regenerasi visual purple hanya akan terjadi bila tersedia vitamin A. Tanpa regenerasi, maka penglihatan pada cahaya remang setelah mata menerima cahaya akan terganggu. Jika terjadi kekurangan vitamin A, maka gejala awal adalah terjadinya rabun senja. Artinya, mata akan mengalami gangguan ketika berpindah dari tempat banyak cahaya ke tempat gelap.
Itulah yang membuat rabun senja hanya terjadi ketika matahari mulai terbenam. Sesuai dengan namanya, penyakit ini tidak bisa dikoreksi dengan kacamata dan terjadi jika sel-sel saraf pembeda terang-gelap di retina mata terganggu.



4.      Penyembuhan .
Untuk pencegahan dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin A setiap harinya. Untuk pengobatan, dapat disembuhkan dengan pemberian vitamin A, namun untuk rabun senja dengan defisiensi yang lebih sulit untuk diobati. Untuk defisiensi yang lebih diberikan vitamin A secara injeksi sebanyak 100.000 unit untuk satu kali pemberian.
B.     BAGAIMANA VITAMIN A MENGOBATI PENYAKIT RABUN AYAM.
Vitamin A pada makanan awalnya berada dalam bentuk retinol ester dan sebelum diserap dalam pencernaan diubah menjadi retinol. Dari mukosa sel retinol tersebut diesterfikasi[1] kembali, kemudian diangkut oleh khilomikron,[2] dibawa ke hati untuk disimpan.
 Bentuk aktif vitamin A sebagian berupa asam retinoat yang akan berperan dalam ekspresi gen. Di retina mata, retinol ini diubah menjadi 11 cis retinal-dehida yang mampu berkonyugasi dengan opsin membentukrhodopsin yang berperan dalam proses penglihatan. Maka, mata memang sangat membutuhkan kehadiran vitamin A.
C.    PENGOLAHAN WORTEL & KELOR TRADISIONAL UNTUK MENGOBATI RABUN SENJA.
Kelor :Tiga tangkai daun kelor ditumbuk halus, seduh dengan 1 cangkir air masak dan disaring, campurkan dengan madu dan aduk sampai merata, minum sebelum tidur. Selain itu kelor pula dapat di makan sebagai lalapan dan juga dijadikan sayur mayur pendamping nasi.
Wortel : dapat dimakan langsung atau di jus, kandungan vitamin nya tetap. Selain itu dapat diolah menjadi sayur.


D.    PENYEBAB KANDUNGAN KELOR DAN WORTEL SAMA :
Bila ditilik kembali kesamaan kandungan kimia dari kedua tumbuhan ini yaitu terletak pada kandungan vitamin nya. Penyebab terdapat kesamaan zat aktif (vitamin A) pada wortel dan kelor, yaitu karena metabolik primer tumbuhan. Metabolik primer adalah unsur esensial yang digunakan untuk pertumbuhan. Metabolik primer menghasilkan produk anabolik dan produk katabolik. Vitamin merupakan produk anabolik. Metaabolik primer terdapat disemua tumbuhan sebagai kandungan dasar yang bila tidak ada dapat menyebabkan kematian pada tumbuhan. Berhubung dengan hal ini, vitamin A yang terdapat pada kelor dan wortel merupakan contoh dari metabolik primer yang terdapat pada tumbuhan.


BAB III
PENUTUP

KESIMPULAN
Adapun kesimpulan yang dapat diambil :
1.      Pada susunan taksonomi, kelor dan wortel berada pada divisi, super divisi dan kelas yang sama, yaitu untuk divisi magnoliophyta (tumbuhan berbunga), super divisi spermatophyta (menghasilkan biji), dan kelas magnoliopsida (berkeping dua).
2.      Kesamaan morfologi wortel dna juga kelor yaitu terletak pada daun, dimana sama-sama berdaun majemuk, dan tulang daun menyirip.
3.      Rabun senja yaitu penyakit ketidak mampuan mata untuk melihat pada saat cahaya minim.
4.      Rabun senja di sebabkan oleh banyak faktor tetapi yang paling sering terjadi karena kekurangan vitamin A.
5.      Wortel dapat dibikin dalam bentuk jus atau dijadikan sebagai lalapan, sedangkan kelor dapat diserbuk dan diseduh layaknya teh


DAFTAR PUSTAKA

Keliat, S. D. 2008. Analisis Sistem Pemasaran Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.
Manalu, H. 2007. Analisis Finansial Usaha Tani Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.
Pohan, R. A. 2008. Analisis Usaha Tani dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pendapatan Petani Wortel. (Skripsi). Medan: Universitas Sumatera Utara.
Rini, D. K. 2010. Respon Penawaran Wortel (Daucus carota) Di Kabupaten Boyolali. Surakarta: Universitas Sebelas Maret.
Simbolon JM, Sitorus M, Katharina N. 2008. Cegah Malnutrisi dengan Kelor. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

[1]Diesterifikasi adalah proses perubahan kembali dalam bentuk ester.
[2] kilomikron adalah suatu zat yang memiliki fungsi membawa energi dalam bentuk lemak ke otot.
FARMAKOLOGI
FARMASI UNHALU 2012



KEDUDUKAN FARMAKOLOGI DIATARA ILMU FARMASI DAN KEDOKTERAN
Farmakologi dalam istilah luas merupakan ilmu yang mempelajari tentang obat, yaitu bagaimana pengaruh senyawa obat terhadap sel hidup khususnya reseptor. Dalam ilmu farmakologi dikenal farmakodinamik dan farmakokinetik. Farmakoodinamik lebih ke bagaimana obat terhadap tubuh, sedangkan farmakokinetik bagaimana tubuh terhadap obat. Dari kedua pembagian studi farmakologi ini, dibutuhkan pengetahuan mengenai fisiologi tubuh, biokimia, patogenensis penyakit yang diperoleh dari studi kedokteran, selain itu juga diperlukan pengetahuan mengenai obat meliputi cara membuat, memformulasikan, menyimpan dan menyediakan obat yang dibahas dalam studi farmasi.
Farmakologi juga berpengaruh penting pada studi kedokteran dan farmasi, dimana tanpa pengetahuan farmakologi, seorang dokter hanya akan membahayakan pasiennya, dimana hanya dengan penggunaan sesuai dosislah obat dapat bersifat memberi efek terapeutik, dan dengan pengetahuan efek samping pada farmakologi seorang dokter dapat mengenal tanda dan gejala yang disebabkan obat. Sedangkan dalam studi farmasi, ilmu farmakologi digunakan untuk mengenali tanaman dan bahan-bahan lain yang berpotensi menjadi obat bila digunakan ketika hendak menemukan obat-obat baru. Dimana pada tanaman yang mengandung suatu zat kimia akan dikaji kesesuainya pada reseptor-reseptor tubuh pada suatu penyakit, apakah dapat menyembuhkan atau memberikan efek toksik.
PENGGOLONGAN OBAT MENURUT UU
Menurut Undang-Undang, obat digolongkan menjadi ;
Obat bebas
Obat bebas terbatas
Obat keras
Psikotropika
Narkotika
Obat wajib apotek
-          OBAT BEBAS
Perngertian :
Obat yang dapat dibeli tanpa resep dokter. Pada kemasan ditandai dengan lingkaran hitam, mengelilingi bulatan berwarna hijau. Dalam kemasan obat disertakan brosur yang berisi nama obat, nama dan isi zat berkhasiat, indikasi, dosis, aturan pakai, efek samping ,nomor batch, nomor registrasi, nama dan alamat pabrik, serta cara penyimpanannya. penandaan akan berubah pada produk obat bebas terbatas.
Contoh :
Paracetamol, Aspirin, Promethazine, Guafenesin, Bromhexin HCL, Chlorpheniramine maleate (CTM), Dextromethorphan, Zn Sulfate, Proliver, Tripid, Gasflat, Librozym (penyebutan merk dagang, karena obat tersebut dalam kombinasi)

-          OBAT BEBAS TERBATAS
Pengertian :
Obat keras yang dapat diserahkan tanpa resep dokter dalam bungkus aslinya dari produsen atau pabrik obat itu, kemudian diberi tanda lingkaran bulat berwarna biru dengan garis tepi hitam serta diberi tanda peringatan.
Tanda Peringatan Pada Obat Bebas Terbatas :
P. NO.1  Awas ! Obat Keras   Bacalah aturan memakainya.Contoh :
a)       Tablet CTM                   :           Anti Histamin
b)       Kapsul Vitamin E          :           Anti Sterilitas
c)       Tablet Antimo                :           Anti muntah dalam perjalanan
d)      Tablet Emetinum           :           Anti disentri
e)       Tablet Santonim             :           Obat cacing
P. NO. 2  Awas ! Obat Keras  Hanya untuk kumur, jangan ditelan. Contoh :
a)      Gargarisma kan              :           obat kumur
b)      Listerin                           :           obat kumur
c)      Oral – B                         :           obat kumur
d)      Betadin gargle              :           obat kumur
e)       Abotil                            :           obat sariawan
P. NO. 3  Awas ! Obat Keras  Hanya untuk bagian luar dari badan. Contoh :
a)      Salep Sulfonamidum     :           Anti bakteri lokal
b)      Liquor Burowi               :           Obat kompres
c)      Tinctura Iodii                 :           Antiseptik
d)     Larutan Mercurochrom  :           Antiseptik Lokal
e)      Alphadine                      :           Untuk antiseptic dan disinvektan
f)       Biosepton                       :           Untuk kompres luka terbuka dari ringan sampai berat, mencegah infeksi, dan menyembuhkan luka khitan, cairan pencuci pada inveksi trichomonasiasi dan infeksi lain pada vagina
g)      Spitaderm                      :          Untuk disinfeksi, hygiene, dan pembedahan pada tangan dan kulit sebelum operasi, sebelum injeksi dan faksinasi, sebelum pengambilan darah, dan ketika mengganti pembalut.
P. NO. 4   Awas ! Obat Keras  Hanya untuk dibakar. Contoh :
a)      Molexdine            :           Untuk sterilisasi kulit dan selaput lender     antiseptic sebelum dan sesudah oprasi infeksi kulit oleh jamur virus, protozoa, luka bakar, khitanan, perawatan tali pusar dan kompres luka
b)     Neoidoine                        :           Untuk luka bakar, luka bernanah, antiseptic pra dan pasca bedah, infeksii kulit karena jamur, kandidiasis, moniliasis, dan vaginitis.
c)      Rokok Asthma     :           obat asthma
d)     Decoderm                        :           Unuk eksim, dermatitis, alergi kontak gigitan serangga, luka bakar karena sinar matahari, psoriasis vulgaris.
e)
P. NO. 5   Awas ! Obat Keras  Tidak boleh ditelan. Contoh :
a)      Bufacetin             :           Untuk infeksi kulit yang disebapkan bakteri gram positif dan negative khususnya yang sensitive terhadap kloramfenikol.
b)      AZA                                 :           Untuk pengobatan aknevulgaris ringan sampai dengan sedang
c)      Lysol                                :           Antiseptik
d)     Ovula Sulfanilamidun      :           Anti infeksi di vagina
e)      Suppositoria dulcolax      :           laksan
P. NO. 6   Awas ! Obat Keras  obat wasir ,jangan ditelan. Contoh :
a)      Laxarec                :           Untuk mengatasi kesulitan buang air besar
b)      Ambeven              :           Untuk pengobatan wasir interna dan eksterna dengan gejala nyeri, bengkak, dan pendarahan
c)      Tefaron
d)      Tramal suppositoria
e)       Encare
f)       Proris
g)      Glycerini leciva

-          OBAT KERAS
Pengertian :
Semua obat yang :
Memiliki takaran/dosis maksimum (DM) atau yang tercantum dalam daftar obat keras yang ditetapkan pemerintah
Diberi tanda khusus lingkaran bulat warna merah dengan garis tepi hitam dan huruf “K” yang menyentuk garis tepinya.
Semua obat baru, kecuali dinyatakan oleh pemerintah (DepKes RI) tidak membahayakan
Semua sediaan parenteral/injeksi/infus intravena.
Contoh :
Loratadine, Pseudoefedrin, Bromhexin HCL, Alprazolam, Clobazam, Chlordiazepokside, Amitriptyline, Lorazepam, Nitrazepam, Midazolam, Estrazolam, Fluoxetine, Sertraline HCL, Carbamazepin, Haloperidol, phenytoin, Levodopa, Benzeraside, Ibuprofen, Ketoprofen dll.

-            OBAT PSIKOTROPIKA
Pengertian :
Merupakan obat yang mempengaruhi proses mental, merangsang atau menenangkan, mengubah pikiran/perasaan/kelakuan seseorang. Menurut UU No.5 Tahun 1997 tentang psikotropika pasal 2 ayat (2), psikotropika digolongkan menjadi :
a)      Psikotropika golongan I : psikotropika yang hanya dapat digunakan untuk tujuan ilmu pengetahuan dan tidak digunakan dalam terapi serta mempunyai potensi amat kuat, mengakibatkan sindroma ketergantungan.  Contohnya antara lain : lisergida (LSD/extasy), MDMA (Metilen Dioksi Meth Amfetamin), meskalina, psilosibina, katinona.
b)      Psikotropika golongan II : psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan dapat digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi kuat mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contohnya antara lain : amfetamin, metamfetamin (sabu-sabu), metakualon, sekobarbital, fenmetrazin.
c)         Psikotropika golongan III : psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan banyak digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi sedang, mengakibatkan sindroma ketergantungan. Contohnya antara lain  penthobarbital, amobarbital, siklobarbital, Amobarbital, Buprenorphine, Butalbital, Cathine / norpseudo-ephedrine, Cyclobarbital.
d)     Psikotropika golongan IV : psikotropika yang berkhasiat pengobatan dan sangat luas digunakan dalam terapi dan/atau untuk tujuan ilmu pengetahuan serta mempunyai potensi ringan mengakbatkan sindroma ketergantungan. Contohnya antara lain : diazepam (frisium), allobarbital, barbital. bromazepam, klobazam, klordiazepoksida, meprobamat, nitrazepam, triazolam, alprazolam.
-          OBAT NARKOTIK
Pengertian:
Merupakan obat yang diperlukan dalam bidang pengobatan dan IPTEK serta menimbulkan ketergantungan dan ketagihan (adiksi) yang sangat merugikan masyarakat dan individu apabila digunakan tanpa pembatasan dan pengawasan dokter. Kemasan obat golongan ini ditandai dengan lingkaran yang di dalamnya terdapat palang (+) berwarna merah. Obat golongan narkotika hanya dapat diperoleh dengan resep dokter yang asli (tidak dapat menggunakan kopi resep). Narkotik dibagi menjadi :
a)      Golongan I : berpotensi sangat tinggi menyebabkan ketergantungan. tidak digunakan untuk terapi. Contoh : heroin, kokain, Canabis sp. (ganja), morfin, dan opium.
b)      Golongan II : berpotensi tinggi menyebabkan ketergantungan, digunakan pada terapi sebagai pilihan terakhir. Contoh : morfin, petidin, metadon, benzetidin, dan betametadol.
c)      Gol III : berpotensi ringan menyebabkan ketergantungan dan banyak digunakan dalam terapi. Contoh : kodein dan turunannya, etil morfin, asetihidrokode.
-          OBAT WAJIB APOTEK (OWA)
Obat wajib apotek adalah obat keras yang dapat diserahkan oleh apoteker kepada pasien di apotik tanpa resep dokter, tetapi harus diserahkan langsung oleh seorang Apoteker kepada pasien disertai informasi lengkap tentang penggunaan obat.
5 contoh obat bebas apotik yaitu
Famotidin
Ranitidin
Asam Fusidat,
Asam Azeleat
Allopurinol
 Diklofenak Na tab

EFEK FARMAKODINAMIK DAN EFEK FARMAKOKINETIK
EFEK FARMAKOKINETIK
Efek farmakokinetik meliputi efek tubuh terhadap obat. Terdapat 4 fase yang obat alami dalam tubuh, yaitu ADME (absorpsi, distribusi, metabolisme, dan ekskresi).
Absorpsi.
Absorpsi merupakan proses masuknya obat dari tempat pemberian ke dalam darah. Tempat absorbsi utama yaitu di usus halus. Pada membran sel epitel usus halus sama dengan membran sel lainnya yaitu terdiri atas lipid bilayer. Dikatakan obat telah mengalami proses absopsi apabila zat aktif telah melewati lipid bilayer membran sel epitel dan sel endotel kapiler usus halus dengan difusi pasif. Hanya obat-obat yang bersifat larut dalam lemak saja yang dapat terabsorpsi cepat. Lalu untuk obat-obat yang tidak memiliki kemampuan untuk melarut baik pada lipid, akan dibutuhkan transporter membran. Transporter membran ini yang akan membantu molekul obat untuk melewati membran untuk diabsorpsi dari saluran cerna maupun di rearbsorpsi dari lumen tubulus ginjal. Transporter ini berupa P-lipoprotein, dimana protein yang terikat pada lipid ini dapat mengikat molekul polar dan non polar lipid sehingga obat dapat terasorpsi.
Absorpsi dipengaruhi oleh; rute penggunaan obat, kelarutan obat, kemampuan difusi melintasi sel membran, konsentrasi obat, sirkulasi pada letak absorpsi, luas permukaan kontak obat, dan bentuk obat. Rute penggunaan obat secara oral akan mengalami absorpsi lama dibandingkan penggunaan obat dengan rute sublingual. Pada sublingual obat akan langsung mausk ke darah sistemik yang disebabkan oleh banyaknya pembuluh darah pada bawah lidah sehingga zat aktif obat akan langsung mengalami distribusi mellaui vena kava superior dan tidka mengalami metabolisme pertama di hati.
Seluruh membran dalam tubuh manusia terdiri dari lipid bilayer, maka obat-obat dengan tingkat kelarutan baik dengan lipid dapat mengalami absorpsi yang cepat. Kemampuan difusi melintasi sel membran masih berkaitan dengan kemampuan melewati lapisan lipid bilayer membran. Difusi merupakan perpindahan molekul dari konsentrasi tinggi ke konsentrasi rendah dengan melewati membran. Apabila konsentrasi obat melebih konsentrasi didalam membran, maka akan terjadi transpor aktif dengan energi lebih untuk melakukan absorpsi.
Distribusi.
Setelah mengalami proses absorbsi di usus halus, obat akan masuk kepembuluh darah mesentrik. Dalam darah obat akan diikat oleh protein plasma dengan berbagai ikatan dan dibawa keseluruh tubuh. Distribusi obat dilakukan didalam susunan syaraf pusat. Dijaringan , obat yang larut air akan berada di luar sel sedangkn obat yang larut lemak akan berdifusi melintasi membran sel dan masuk ke dalam sel, tetapi karena perbedaan pH didalam sel (pH =7) dan diluar sel (pH = 7,5) maka obat-obat asam lebih banyak diluar sel dan obat-obat basa lebih banyak didalam sel.
Metabolisme.
Metabolisme obat terutama di hati, yakni di mikrosom dan di sitosol. Tempat metabolisme yang lain (ekstra hepatik) adalah : dinding usus, ginjal, paru, darah, otak, dan kulit, juga di lumen kolon. Tujuan metanolisme obat adalah mengubah obat yang non polar menjadi polar agar dapat diekresikan mellaui ginjal atau empedu.
Reaksi metabolisme terdiri dari reaksi fase I dan II. Reaksi fase I terdiri dari oksidasi, reduksi, dan hidrolisis, yang mengubah obat menjadi lebih polar, dengan akibat menjadi inaktif, lebih aktif atau kurang aktif., dan dibutuhkan enzim pada proses ini. Obat dibubuhi gugus polar seperti gugus hidroksil, gugus amino, karboksil, sulfihidril, dsb untuk dapat bereaksi dengan substrat endogen pada reaksi fase II. Sedangkan reaksi fase II merupakan reaksi konyugasi dengan substrat endogen : asam glukuronat, asam sulfat, asam asetat atau asam amino, dan hasilnya menjadi sangat polar dengan demikian hampir selalu tidak aktif.
Obat dapat mengalami reaksi fase I saja, atau reaksi fase II saja, atau reaksi fase I dan diikuti reaksi fase II. Obat yang sudah mempunyai gugus hidroksil, gugus amino, karboksil, sulfihidril, dsb dapat langsung melakukan reaksi fase II tanpa harus melakukan fase I.
Eksresi.
Organ terpenting untuk eksresi obat adalah ginjal. Obat dieksresikan melalui ginjal dalam bentuk utuh atau dalam bentuk metabolitnya. Ekresi melalui ginjal melibatkan 3 proses, yaitu filtrasi glomerulus, sekresi aktif di tubulus proksimal dan reabsorpsi pasif disepanjang tubulus.  Filtrasi glomerulusmenghasilkan ultrafiltrat. Semua obat akan keluar dalam ultrafiltrat sedangkan yang terikat protein akan tetap tinggal dalam darah.
Sekresi aktif dari dalam darah ke tubulus proksimal melalui transporter membran glikoprotein yang terdapat di membran sel epitel. Reabsorpsi pasif terjadi disepanjang tubulus untuk membentuk noinon obat yang larut lemak. Ditubulus distal juga terdapat protein transporter yang berfungsi untuk reabsorpsi aktif fari lumen tubulus kembali ke dalam darah (untuk obat-obat dan sat-sat endogen tertentu). Obat yang telah mengalami filtrasi ini akan dikeluarkan dari tubuh melalui air seni.
Eksresi mellaui empedu ke dalam usus dna kemudian keluar bersa,a feses. Obat dan metabolit yang larut lemak dapat diresorpsi kembali ke dalam tubuh dari lumen usus. Ekskresi melalui paru terutama untuk eliminasi gas anestitetik umu. Eksresi melalui ASI meskipun sedikit, penting artinya karena dapat menimbulkan efek samping pada bayi yang menyusu pada ibunya. Yang diekskresikan melalui ASI kebanyakan obat-obat yang bersifat basa dan sedikit yang bersifat asam.
Eksresi saliva yaitu kadar obat dalam saliva sama dengan kadar obat bebas dalam plasma, maka saliva dapat digunakan untuk mengukur kadar obat jika sukar untuk diperoleh darah. Eksresi di rambut dan kulit biasanya untuk keperluan forensik.
EFEK FARMAKODINAMIK.
Efek farmakodimaik meliputi efek obat terhadap tubuh dengan melibatkan reseptor. Fase farmakodinamik merupakan suatu proses terjadinya interaksi antara obat dan tempat aksinya dalam sistem biologis. Potensi aksi struktur khusus obat berhubungan dengan interaksi yang terjadi terhadap struktur khusus temat aksi obat itu. Apabila struktur tempat aksinya telah diketahui, interaksi obat dengan tempat aksinya dapat terjadi. Oleh karena itu, struktur tempat aksi obat dan kekuatan yang mengontrol interaksinya dengan obat perlu dotentukan untuk disesuaikan dengan desain obat yang rasional. Tujuan pokok fase farmakodinamik ini adalah optimasi efek biologis. Bila obat dapat berinteraksi dengan sisi reseptor, biasnaya protein membran akan menimbulkan respon biologis. Cara kerja obat dapat digolongkan sebagai berikut : secara kimiawi, secara fisika, dan cara kerja yang mengganggu proses metabolisme.
OBAT ADALAH RACUN, PENDAPAT ANDA?
Jika dikatakan obat adalah racun, pendapat saya iya obat adalah racun. Namun bukan hanya obat saja yang merupakan racun. Pengertian racun dalam kamus Indonesia adalah suatu zat yang memberi sakit dan kematian. Menurut Paracelcus seorang dokter Renaissance, botani, alkemis, astrolog, dan okultis umum mengatakan bahwa yang membuat suatu zat itu racun atau tidak adalah dosis dan cara masuk ke tubuh kita. Jadi, apabila kita mengonsumsi zat apapun dalam jumlah atau dosis melebih dosis atau jumlah maksimum yang seharusnya dikonsumsi akan merubah fungsi zat tersebut menjadi racun bagi tubuh. Begitu pun dengan cara masuknya kedalam tubuh, contoh bila kita minum bukan melalui mulut tetapi melalui hidung maka kita akan mati tersedak, lalu apabila kita minum dalam sekali minum langsung 20 liter maka yang terjadi kita bisa mati kekenyangan air. Begitupun obat, obat dapat bersifat sebagai zat yang dapat berefek mengobati apabila diberikan dalam jumlah yang sesuai dengan cara masuk yang sesuai. Contoh, bila suatu obat diinstruksikan oleh dokter untuk dikonsumsi 3 kali sehari 1 tablet, namun karena ingin efek yang cepat maka dikonsumsi dalam sekali minum 20 tablet, tentu saja dosis yang dikonsumsi melebihi kapasitas dosis maksimum, sehingga bukan kesembuhan yang diperoleh namun keracunan karena overdosis. Lalu bila larutan koloid digunakan untuk rute obat injeksi antravena maka yang terjadi adalah kematian pasien yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah karena tersumbatnya darah untuk mengalir yang disebabkan oleh partikel koloid yang mengendap pada pembuluh darah.
Jadi pernyataan obat merupakan racun adalah benar, tetapi bersifat racun bila digunakan dalam jumlah yang melebihi batas maksimum dan cara masuknya tidak sesuai. Batas maksimum dosis pada setiap individu berbeda-beda, untuk obat-obatan dosis maksimum dapat dihitung dengan rumus dosis.
PERBEDAAN SIDE EFFECT dan ADVERSE DRUG REACTION
Adverse Drug Reaction / ADR didefinisikan sebagai reaksi yang tidak dikehendaki dan bersifat merugikan akibat respon pemakaian obat pada dosis sesuai anjuran pada manusia untuk keperluan terapi, profilaksis, diagnosis, maupun untuk modifikasi fungsi fisiologis.
Side Effect, yaitu berbagai efek yang tidak dikehendaki dari suatu obat yang terjadi pada pemakaian dosis normal pada manusia, berkaitan kandungan zat pada obat tersebut.
Jadi, definisi adverse drugs reaction lebih cenderung ke reaksi kimianya yang bersifat merugikan  dari obat yang kita konsumsi, sedangkan side effect atau efek samping lebih menjurus ke hasil yang merugikan dari reaksi kimia dari obat yang kita konsumsi.
OBAT-OBAT SISTEM SARAF OTONOM
ADREGENIK
EPINEFRIN.
Farmakodinamik.
kardiovaskular (pembuluh darah) : efek vaskuler epinefrin terutama pada arteriol kecil dan sfingter prekapiler , tetapi vena dan arteri besar juga dipengaruhi :
-          epinefrin dalam dosis rendah menyebabkan vasodilatasi ( hipotensi)
-          epinefrin dalam dosis tinggi menyebabkan vasokontriksi (peningkatan tekanan darah)
arteri koroner :
-          terjadi peningkatan aliran darah koroner
-          peningkatan tekanan darah aorta
jantung :
-          aktivasi reseptor β1 di otot jantung, sel pacu jantung dan jaringan konduksi
-          memperkuat kontraksi dan mempercepat relaksasi
-          curah jantung meningkat , namun pemakaian oksigen dan kerja jantung ikut meningkat sehingga kurang efektif
otot polos
-          saluran cerna : melalui reseptor α dan β , epinefrin menimbulkan relaksasi otot polos saluran cerna
-                     uterus : bekerja pada reseptor α1 dan α2  . selama kehamilan bulan terakhir dan diwaktu partus epinefin menghambat tonus dan kontraksi uterus melalui reseptor β2.
-                     Pernafasan : bronkodilatasi , menghambat pelepasan mediator inflamasi dari sel mast mlalui reseptor β2 , menghambat sekresi bronkus dan kongesti mukosa melalui reseptor α1

Susunan saraf pusat
Epinefrin dapat menimbulkan kegelisahan , rasa kuatir , nyeri kepala, dan tremor
Proses metabolik
-                     Menstimulasi glikogenolisis di sel hati dan otot rangka melalui reseptor β2
-                     Penghambatan sekresi insulin
-          Peningkatan lipolisis
Farmakokinetik
Absorbsi
-          Pada pemberian oral, epinefrin tidak mencapai dosis terapi karena dirusak oleh enzim COMT dan MAO yang terdapat pada dinding usus dan hati
-          Pada penyuntikan subkutan , absorbsi lambat karena terjadi vasokontriksi lokal
-          IM : absorbsi cepat
-          Inhalasi : efek terutama pada saluran nafas
Biotransformasi dan ekskresi
-          Epinefrin stabil pada pembuluh darah
-          Degradasi terutama terjadi di hati , karena terdapat banyak enzim COMT dan MAO
-          Metabolit epinefrin dikeluarkan melalui urine.
Indikasi:
Digunakan untuk mengobati anaphylaxis dan sepsis.
Dosis
Dosis dewasa : 0,2-0,5 mg (0,2-0,5 ml larutan 1:1000)
1-10 mcg/menit infus IV
Pabrik : Ethica
DOPAMIN.
FARMAKODINAMIK :
Dopamin berkerja dalam reseptor dopaminergik D1 pembuluh darah terutama di ginjal, mesenterium dan pembuluh darah koroner dengan kadar yang rendah. Stimulasi tersebut mengakibatkan vasodilatasi melalui aktivitas adenilsiklase. Pada kadar sedikit lebih tinggi, dopamine akan meningkatkan kontraktilitas miokard melalui aktivitas adrenoreseptor β1, Dopamin juga melepaskan NE endogen yang menambah efeknya ke jantung.
Pada dosis rendah hingga sedang, resistensi perifer total tidak berubah dopamin meningkatkan tekanan sistolik dan tekanan nadi tanpa mengubah tekanan diastolik akibatnya berguna untuk curah jantung rendah dengan gangguan fungsi ginjal seperti syok kardiogenik dan gagal jantung berat.
Pada kadar yang tinggi dapat menyebabkan vasokontriksi maka dari itu untuk penatalaksanaan syok tekanan darah dan fungsi ginjal harus dimonitor.
Farmakokinetik
            Dopamin sebagai katekolamin tidak efektif pada pemberian oral. NE tidak diabsorbsi dengan baik dalam pemberian subkutan. Dimetabolisme di hati dan diekresikan dari ginjal.
Indikasi
Untuk mengobati syok dan tekanan darah rendah karena serangan jantung, trauma, infeksi, operasi dan penyebab lainnya.
Dosis :
-          Dewasa Dosis yang biasa untuk Nonobstructive Oliguria :
Dosis awal: 1 sampai 5 mcg / kg / menit dengan infus IV kontinu.
Titrasi untuk respon yang diinginkan. Administrasi di tingkat yang lebih besar dari 50 kg per mcg per menit telah digunakan dengan aman dalam situasi yang serius.
-          Dewasa Biasa Dosis untuk Syok :
Dosis awal: 1 sampai 5 mcg / kg / menit dengan infus IV kontinu.
Titrasi untuk respon yang diinginkan. Administrasi di tingkat yang lebih besar dari 50 kg per mcg per menit telah digunakan dengan aman dalam situasi yang serius.
Pabrik : dipa pharmalab intersains.

DOBUTAMIN
Farmakodinamika
Struktur senyawa dobutamin mirip dopamin, tetapi dengan substitusi aromatic yang besar pada gugus amino. Dobutamin merupakan campuran resemik dari kedua isomer / dan d. Isomer / adalah α1-agonis yang poten sedangkan isomer d  α1-bloker yang poten. Sifat agonis isomer / dominan, sehingga terjadi vasokontriksi yang lemah melalui aktivasi reseptor α1. Isomer 10 kali  lebih poten sebagai agonis reseptor β daripada isomer / dan lebih selektif untuk reseptor β1 daripada β­2.
Dobutamin menimbulkan efek inotropik  yang lebih kuat daripada efek kronotropik dibandingkan isoproterenol. Hal ini disebabkan karena resistensi perifer yang relative tidak berubah ( akibat vasokontriksi melalui reseptor α1 diimbangi oleh vasodilatasi melalui reseptor β2 ), sehingga tidak menimbulkan reflex takikardi, atau karena reseptor α1 di jantung menambah efek inotropik obat ini. Pada dosis yang menimbulkan efek inotropik yang sebanding, efek dobutamin dalam meningkatkan automatisitas nodus SA kurang dibanding isoproterenol, tetapi peningkatan konduksi AV dan intraventrikular oleh ke-2 obat ini sebanding. Dengan demikian, infuse dobutamin akan meningkatkan kontraktilitas jantung dan curah jantung, hanya sedikit meningkatkan denyut jantung, sedangkan resistensi perifer relative tidak berubah.
Farmakokinetik
Norepinefrin, isoproterenol dopamine dan dobutamin sebagai katekolamin tidak efektif pada pemberian oral. NE tidak diabsorpsi dengan baik pada pemberian SK. Isoproterenol diabsorpsi dengan baik pada pemberian parenteral atau sebagai aerosol atau sublingual sehingga tidak dianjurkan. Obat ini merupakan substrat yang baik untuk COMT tetapi bukan substrat yang baik unuk MAO, sehingga kerjanya sedikit lebih panjang daripada epinefrin. Isoproterenol diambil oleh ujung saraf adrenergic tetapi tidak sebaik epinefrin dan NE. Nonkatekolamin yang digunakan dalam klinik pada umumnya efektif pada pemberian oral dan kerjanya lama, karena obat – obat ini resisten terhadap COMT dan MAO yang banyak terdapat pada dinding usus dan hati sehingga efektif per oral.
Indikasi :
Pengobatan pada jantung
Pabrik : Danpac Pharma

Acetaminophen / paracetamol
Farmakodinamik:
-       Efek analgesiknya mengurangi nyeri ringan sampai sedang.
-       Menurunkan suhu tubuh.
-       Efek anti inflamasinya sangat lemah (atau tidak ada).
-       Paracetamol merupakan penghambat biosintesis PG yang lemah.
Farmakokinetik:
-       Diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna.
-       Konsentrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu ½ jam.
-       T ½ antara 1-3 jam.
-        25% paracetamol terikat protein plasma.
-       Dimetabolisme oleh enzim mikrosom hati.
-       Dikonjugasi dengan asam glukoronat.
-       Mengalami hidroksilasi.
-       Metabolit hasil hidroksilasi menimbulkan methemoglobinemia & hemolisis eritrosit.
-       Diekskresi melaui ginjal.
Indikasi:
-       Untuk analgesik dan antipiretik dan tidak mempengaruhi GIT bleeding.
Efek Samping:
-       Eritema
-       Urtikaria
-       Demam
Akibat dosis toksik:
-       Nekrosis hati
-       Nekrosis tubulus renalis
-       Hipoglikemi
-       Kerusakan hati dapat mengakibatkan ensefalopati dan kematian.
-       Radikal bebas dari paracetamol berikatan secara kovalen dengan makromolekul vital sel hati.
-       Hepatotoksik paracetamol meningkat pada penderita yang juga mendapat barbiturat, anti konvulsi lain, dan alkoholik yang kronis.
Sediaan:
-       Tablet 500 mg
-       Sirup yg mengandung 120 mg per 5 mL
Pabrik
PT.PIM PHARMACEUTICAL
Indole & Indene Acetic Acids/ Indometacin
Farmakodinamik:
-       Walaupun efektif tapi toksik maka penggunaaannya dibatasi.
-       Efek: analgesik (perifer dan sentral), anti inflamasi, dan anti piretik yang kira-kira sebanding dengan aspirin.
-       Invivo menghambat enzim cyclooksigenase.
Farmakokinetik:
-       Absorbsi per oral cukup baik.
-       92-99% terikat protein plasma.
-       Metabolisme di hati.
-       Ekskresi dalam bentuk asal maupun metabolik lewat urine dan empedu.
-        T ½ 24 jam.
Efek Samping:
-       Pada saluran cerna berupa nyeri abdomen, diare, perdarahan lambung, & pankreatitis.
-       Sakit kepala hebat, depresi, bingung, agranulositosis, thrombositopenia, & anemia aplastik.
-        Vasikonstriksi pembuluh koroner.
-       Hiperkalemi
-       Mengurangi natriuretik dari thaizide dan furosemide.
-       Memperlemah efek hipotensif dari beta blocker.
Kontra Indikasi:
-       Ibu hamil
-       Anak
-        Gangguan psikiatri
-       Pasien dengan penyakit lambung
Indikasi:
-       Hanya dianjurkan bila NSAID yang lain kurang berhasil, misalnya pada spondilitis ankilosa, arthritis pirai akut, arthritis tungkai.
Dosis:
-       2-4 kali 25 mg/ hari
-       50-100 mg (sebelum tidur) untuk mengurangi gejala rheumatik di malam hari
Pabrik
PT KIMIA FARMA ( Jakarta – Indonesia).
Dexamethasone
Farmakodinamik
Pada waktu memasuki jaringan,dexamethasone berdifusi atau ditranspor menembus sel membran dan terikat pada kompleks reseptor sitoplasmik glukokortikoid heat-shock protein kompleks. Heat shock protein dilepaskan dan kemudian kompleks hormon reseptor ditranspor ke dalam inti, dimana akan berinteraksi dengan respon unsur respon glukokortikoid pada berbagai gen dan protein pengatur yang lain dan merangsang atau menghambat ekspresinya.
Farmakokinetik
Pada kejadian normal, 90% kortisol terikat pada dua jenis protein plasma yaitu globulin pengikat kortikosteroid dan albumin. Afinitas globulin tinggi tetapi kapasitas ikatnya rendah, sebaliknya afinitas albumin rendah tetapi kafasitas ikatnya relative tinggi. Karena itu pada kadar rendah atau normal, sebagian besar kortikosteroid terikat globulin. Bila kadar kortikosteroid meningkat jumlah hormone yang terikat albumin dan bebas juga meningkat , sedangkan yang terikat globulin sedikit mengalami perubahan. Kortikosteroid berkompetisi sesamanya untuk berikatan denga globulin pengikat kortikosteroi; kortisol mempunyai afinitas tinggi sedangkan metabolit yang terkonyugasi dengan asam glukuronad dan aldosteron afinitasnya rendah.
Kehamilan atau penggunaan estrogen dapat meningkatkan kadar globulin pengikat kortikosteroid, kortisol plasma total dan kortisol bebas sampai beberapa kali. Telah diketahui bahwa hal ini tidak terlalu bermakna terhadap fungsi tubuh.
Indikasi
Sebagai anti-inflamasi pada gangguan endoktrin, gangguan rematik, penyakit collagen, dermatologis, keadaan alergi, penyakit mata, penyakit saluran pernafasan, gangguan hematologis, penyakit neoplastik, keadaan edema, cerebral edema, tuberculosis meningitis, test diagnosis dari hyperfungsi adrenokortikoid.
Dosis
-       Dewasa : sehari 0,5 – 2 mg dibagi dalam beberapa dosis,, pada keadaan parah bisa sampai 12 mg sehari.
-       Anak – anak : sekali 6- 85 mcg per kg berat badan, sehari 24 – 340 mcg per kg berat badan.
Pabrik
PT MEGA FARMA ( Jakarta – Indonesia).

Ciprofloxacin
Farmakodinamik
Siprofloksasin merupakan salah satu obat sintetik derivat kuinolon. Mekanisme kerjanya adalah menghambat aktivitas DNA gyrasi bakteri, bersifat bakterisidal dengan spektrum luas terhadap bakteri gram positif maupun negatif.
Farmakokinetik
Siprofloksasin diabsorbsi secara cepat dan baik melalui saluran cerna, biovailabilitas absolut antara 69-86%, kira-kira 16-40% terikat pada protein plasma dan didistribusi ke berbagai jaringan serta cairan tubuh. Metabolismenya di hati dan dieksresi terutama melalui urin
Indikasi
Untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang sensitive terhadap ciprofloxacin seperti : infeksi saluran kemih termaksud prostatitis. Uretritis dan servisitis gonorrhoeae. Infeksi saluran cerna, termaksud demam tifoid yang disebabkan oleh S.thypi. infeksi saluran nafas, kecuali pneumonia akibat streptococcus. Infeksi kulit dan jaringan lunak, innfeksi tulang dan sendi.
Dosis
-       Dewasa
Infeksi ringan / sedang saluran kemih : 2 x sehari 250mg
Infeksi berat saluran kemih : 2 x sehari 500mg
Infeksi ringan / sedang saluran nafas, tulang, sendi, kulit, jaringan lunak : 2 x sehari 250 – 500 mg
Infeksi berat saluran nafas, tulang, sendi, kulit dan jaringan lunak: 2 x sehari 500 – 700 mg
Protatitis kronis : 2 x sehari 500 mg
Infeksi saluran cerna : 2 x sehari 500 mg
Gonorrhoeae akut : 250 mg dosis tunggal
Untuk mencapai kadar yang adekuat pada osteomelitis akut, dosis tidak boleh kurang dari 2 x sehari 750 mg.
Pabrik
PT BERNOFARM (Siduharjo – Indonesia)
NIFEDIPINE
Famakodinamik
Nifedipine bekerja sebagai antagonis kalsium dengan menghambat arus ion kalsium masuk ke dalam otot jantung dari luar sel. Karena kontraksi otot polos tergantung pada ion kalsium ekstra seluler, maka dengan adanya antagonis kalsium dapat menimbulkan efek inotropik negatif. Demikian juga dengan Nodus Sino Atrial (SA) dan Atrio Ventrikuler (AV) akan menimbulkan kronotropik negatif dan perlambatan konduksi AV.
Farmakokinetik
Terikat oleh protein plasma dan diekskresi dalam bentuk metabolit tidak aktif melalui urin. Nifedipine dalam dosis tunggal diekskresi sebesar 80%  dalam waktu 24 Insufisiensi ginjal tidak berpengaruh secara signifikan terhadap farmakokinetik nifedipine.
Indikasi
Indikasi Nifedipine adalah untuk pengobatan dan pencegahan insufiensi koroner terutama angina pektoris, hipertensi kronik dan hipertensi urgensi.
Dosis
Dosis yang umum diberikan adalah :
Dosis tunggal 5 – 10 mg.
Dosis rata-rata 5 – 10 mg, 3 x sehari.
Interval tiap dua dosis paling sedikit 2 jam. Tablet ditelan utuh dengan sedikit cairan. Bila diinginkan khasiat yang cepat, misalnya ketika terasa akan datang serangan, tablet dikunyah dan dibiarkan menyebar dalam mulut. Nifedipin akan diserap cepat oleh selaput lendir mulut.
Pabrik
Indofarma
AB-Vask 5mg TABLET Amlodipine
Famakodinamik
Amiodipine adalah inhibitor influks kalsium (slow channel blocker atau antagonis ion kalsium), yaitu menghambat influks ion-ion kalsium transmembran ke dalam jantung dan otot polos Mekanisme kerja antihipertensi amiodipine dikarenakan adanya efek relaksasi secara langsung pada otot polos vaskular, sedangkan mekanisme yang tepat untuk menghilangkan angina belum sepenuhnya diketahui Dua cara kerja amlodipine untuk memperkecil iskemia total adalah sebagai berikut:
Amiodipine menimbulkan dilatasi arteriola perifer sehingga memperkecil tahanan perifer total     (afterload) terhadap kerja jantung Karena tidak menimbulkan refleks takikardia, maka tidak ada muatan     terhadap jantung sehingga konsumsi energi miokardial dan kebutuhan oksigen menurun
Amiodipine menimbulkan dilatasi arteri koroner utama dan arteriola koroner, baik pada keadaan normal     maupun iskemia. Dilatasi ini meningkatkan penyampaian oksigen miokardial pada penderita dengan spasme     arteri koroner (Prinzmetal’s atau angina varian)
Farmakokinetik
Setelah pemberian dosis terapeutik secara oral, amiodipine diabsorpsi dengan baik dan kadar puncak dalam plasma tercapai setelah 6 – 12 jam Volume distribusi amiodipine kira-kira 21 liter/kg Waktu paruh eliminasi plasma terminal adalah sekitar 35 – 50 jam dan konsisten pada pemberian dosis sekali sehari Kadar mantap dalam plasma tercapai 7 – 8 hari setelah pemberian secara terus menerus sehari sekali Sebanyak 97,5% amiodipine dalam sirkulasi terikat dengan protein plasma.
Amlodipine sebagian besar dimetabolisme di hati menjadi metabolit inaktif, di ekskresi di urin 10% dalam bentuk tidak berubah dan 60% sebagai metabolit Pada penderita hipertensi, pemberian dosis sehari sekali memberikan penurunan tekanan darah yang signifikan secara klinis baik pada posisi terlentang maupun berdiri setelah interval waktu 24 jam. Karena mula kerja yang lambat maka tidak terjadi hipotensi akut setelah pemberian amlodipine pada penderita angina .Pemberian dosis sekali sehari meningkatkan waktu exercise dan menurunkan frekuensi serangan angina dan konsumsi tablet nitrogliserin. Amiodipine tidak mempengaruhi efek metabolisme atau perubahan-perubahan lipid (lemak) dalam plasma.
Indikasi
Amlodipine diindikasikan untuk pengobatan hipertensi dan digunakan dalam bentuk tunggal untuk mengontrol tekanan darah pada sebagian besar penderita Penderita-penderita yang tidak cukup terkontrol bila hanya menggunakan obat antihipertensi tunggal, dapat lebih menguntungkan bila pemberian amlodipine dikombinasi dengan diuretik tiazid, inhibitor adrenoreceptor, atau inhibitor anglotensin-converting enzym.
Amlodipine diindikasikan untuk pengobatan iskemia miokardial yang disebabkan obstruksi fixed (angina stabil) dan atau vasospasme/vasokonstriksi (Prinzmetal’s atau angina varian) dari pembuluh darah koroner Amlodipine dapat digunakan sebagai gambaran klinik yang menunjukkan suatu kemungkinan komponen vasospastik / vasokonstriktif tetapi belum nampak adanya vasospasme / vasokonstriksi. Amlodipine dapat digunakan dalam bentuk tunggal (monoterapi) atau dikombinasi dengan obat-obat antiangina lain, terutama pada penderita angina yang sukar disembuhkan dengan nitrat dan atau dengan p-blocker pada dosis adequat / dosis yang memadai
Dosis
Penggunaan dosis Amlodipine diberikan secara individual, bergantung pada toleransi dan respon pasien. Dokter biasanya akan menyesuaikan dosis Amlodipine anda sesuai tekanan darah dan respon pengobatan. Amlodipine umumnya diberikan satu kali sehari.
Pabrik
PT. LAPI LABORATORIES (CIKANDE –INDONESIA).
Captropil
Farmakodinamik
Captopril adalh D-3 mercaptomethyl-propionyl-L-proline. Captopril mempunyai efek yang menguntungkan pada hipertensi dan gagal jantung, yaitu penekanan sistem renin-angiotensin-aldosterone.
Captopril mencegah perubahan angiotensin I menjadi angiotensin II oleh inhibisi ACE (angiotensin Converting Enzym) .
Farmakokinetik
Setelah pemberian secara oral captopril secara cepat diabsorpsi dan adanya makanan dalam saluran gastrointestinal berkurang 30-40%. Dalam periode 24 jam lebih dari 95% dosis yang diabsorpsi dieliminasi ke dalam urin dan 40-50%nya dalam bentuk tidak berubah.
Indikasi
Untuk hipertensi berat hingga sedang, kombinasi dengan tiazida memberikan efek aditif, sedangkan kombinasi dengan beta bloker memberikan efek yang kurang aditif. Untuk gagal jantung yang tidak cukupp responsive atau tidak  dapat dikontrol dengan dieretik dan digitalis, dalam hal ini pemberian kaptropril diberikan bersama diuretic dan digitalis.
Dosis
Kaptropril harus diberikan 1 jam sebelum makan, dosisnya  sangat tergantung dari kebutuhan penderita (individual).
-            Dewasa
Hipertensi : dosis awal 12,5 mg 3 x sehari, bila setelah 2 minggu, penurunan tekanan darah masih belum memuaskan maka dosis dapat ditingkatkan menjadi 25 mg 3 x sehari. Bila setelah 2 minggu lagi, tekanan darah masih belum terkontrol sebaiknya ditambahkan obat diuretic golongan tiazida missal hidroklorotiazida 25mg setiap hari. Dosis diuretic mungkin dapat ditingkatkan pada interval satu atau dua minggu. Maksimum dosis captropril untuk hipertensi tidak boleh lebih dari 450 mg.
-        Gagal jantung 12,5 – 25 mg 3 x sehari, diberikan bersama diuretic dan digitalis, dari awal terapi harus dilakukan pengawasan medic secara ketat. Untuk penderita dengan gangguan fungsi ginnjal dosis perlu dikurangi disesuaikan dengan klirens penderita.
Pabrik
INDOFARMA BEKASI- INDONESIA
Amlodipine atau Norvask
Farmakodinamik
Norvask adalah obat antihipertensi yang mengandung amlodipine, suatu obat penghambat ion kalsium. Mekanisme kerja amlodipine adalah menghambat masuknya (influks) ion kalsium ke dalam sel otot jantung dan otot polos pembuluh darah. Dengan demikian amlodipine mempunyai efek relaksasi otot polos sehingga mengakibatkan penurunan tekanan darah. Efek amlodipine dalam pengobatan angina belum diketahui secara pasti, tetapi amlodipine mengurangi iskemia jaringan dengan cara :
-            Amlodipine menyebabkan pelebaran pembuluh darah arteriol perifer, sehingga mengurangi resistensi total perifer (afterload). Akibatnya terjadi penurunan konsumsi energi otot jantung dan kebutuhan oksigen.
-            Amlodipine menyebabkan pelebaran pembuluh darah arteri koroner dan arteriol.
-            Pada penderita tekanan darah tinggi, dosis sekali sehari cukup signifikan menurunkan tekanan darah. Karena mulai kerja (onset) amlodipine lambat, amlodipine jarang menyebabkan hipotensi akut.
Farmakokinetik
Setelah pemberian dosis terapeutik secara oral, amlodipine diabsorpsi dengan baik dan kadar puncak dalam plasma tercapai setelah 6 – 12 jam. Kadar mantap dalam plasma tercapai 7 – 8 hari setelah pemberian secara terus menerus sehari sekali. Norvask sebagian besar dimetabolisme di hati menjadi metabolit inaktif, di ekskresi di urin 10% dalam bentuk tidak berubah dan 60% sebagai metabolit. Pada penderita hipertensi, pemberian dosis sehari sekali memberikan penurunan tekanan darah yang signifikan secara klinis baik pada posisi terlentang maupun berdiri setelah interval waktu 24 jam.
Indikasi
Hipertensi. Amlodipine dapat digunakan sebagai terapi tunggal atau kombinasi dengan obat antihipertensi lainnya.
Iskemia miokard.
Angina kronik stabil atau angina vasospastik.
Dosis
Dosis yang lazim diberikan oleh dokter adalah 5 – 10 mg, 1 kali sehari.
Pabrik
Pfizer
Cetirizine
Farmakodinamik
Cetirizine adalah antihistamin dengan efek sedative yang rendah pada dosis aktif farmakologi dan mempunyai sifat tambahan sebagai anti alergi. Merupakan antagonis selektif reseptor H1, efeknya terhadap reseptor lain dapat diabaikan sehingga cetirizine hampir bebas dari efek anti kolinergik dan anti serotonin. Cetirizine menghambat pelepasan histamin pada fase awal dari reaksi alergi, mengurangi migrasi dari sel inflamasi dan melepaskan mediator yang berhubungan dengan “late allergic response”.
Farmakokinetik
-            Puncak level darah untuk 0,3 µg/ml dicapai antara 30-60 menit setelah pemberian cetirizene 10 mg
-            Waktu paruh plasma kira-kira 11 jam.
-            Absorpsi sangat konsisten pada semua subjek. Pengeluaran melalui ginjal 30ml/menit dan waktu paruh ekskresi kira-kira 9 jam.
-            Cetirizine terikat kuat pada protein plasma.
Indikasi
Pengobatan perennial rhinitis, alergi rhinitis musiman dan kronik idiopatik urtikardia.
Dosis
Pabrik
PT. KIMIA FARMA (Jakarta – Indonesia).


Indexon Tablet.
Farmakodinamik
Pada waktu memasuki jaringan,indexon tablet berdifusi atau ditranspor menembus sel membran dan terikat pada kompleks reseptor sitoplasmik glukokortikoid heat-shock protein kompleks. Heat shock protein dilepaskan dan kemudian kompleks hormon reseptor ditranspor ke dalam inti, dimana akan berinteraksi dengan respon unsur respon glukokortikoid pada berbagai gen dan protein pengatur yang lain dan merangsang atau menghambat ekspresinya.
Farmakokinetik
Pada kejadian normal, 90% kortisol terikat pada dua jenis protein plasma yaitu globulin pengikat kortikosteroid dan albumin. Afinitas globulin tinggi tetapi kapasitas ikatnya rendah, sebaliknya afinitas albumin rendah tetapi kafasitas ikatnya relative tinggi. Karena itu pada kadar rendah atau normal, sebagian besar kortikosteroid terikat globulin. Bila kadar kortikosteroid meningkat jumlah hormone yang terikat albumin dan bebas juga meningkat , sedangkan yang terikat globulin sedikit mengalami perubahan. Kortikosteroid berkompetisi sesamanya untuk berikatan denga globulin pengikat kortikosteroi; kortisol mempunyai afinitas tinggi sedangkan metabolit yang terkonyugasi dengan asam glukuronad dan aldosteron afinitasnya rendah..
Indikasi
Peradangan, rematoid arthritis (encok), asma bronchial, penyakit serum, dermatitis alergi, rhinitis, kongjutivitis, lupus eritematosus, demam rematik angkut, leukemia akut, sindrom nefrotik, pemfigus akut.
Dosis
-                 Umumnya : 0,5 – 2mg sehari, dalam dosis terbagi-bagi
-                 Untuk reaksi alergi akut dan asma bronchial
Hari pertama : 6 mg
Hari kedua    : 4,5 mg
Hari ketiga    : 3 mg
Hari keempat : 1,5 mg
-                 Untuk rematoid arthritis (encok)
Sehari 3 mg selama 15 hari
Hari ke 16 dan 17 : 2,5 mg
Hari ke 18 dan 19 : 2 mg dan seterusnya.
Pabrik
PT. INTERBAT (Buduran, Sidoharjo, Jawa Timur, Indonesia)
Glibenclamide
Farmakodinamik
Kerja utama glibenclamide adalah meningkatkan rilis insulin dari pankreas. Diduga terdapat dua mekanisme kerja tambahan-suatu penurunan kadar glucagon serum dan suatu efek  ekstrapankreatik dengan mengadakan efek potensiasi terhadap kerja insulin pada jaringan sasaran-tetapi kemaknaan klinisnya masih dipertanyakan.
Farmakokinetik
Dapat diminum bersama makanan. gliburid lebih efektif diminum 30 menit sebelum makan. Setelah diabsorbsi, obat ini tersebar ke seluruh cairan ekstra sel. Dalam plasma sebagian besar terikat pada protein plasma terutama albumin (70-99%).
Studi menggunakan glibenklamid yang dilabel radioaktif menunjukkan bahwa, glibenklamid diserap sangat baik (84 ± 9%). Mula kerja (onset) glibenklamid: kadar insulin serum mulai meningkat 15-60 menit setelah pemberian dosis tunggal. Kadar puncak dalam darah tercapai setelah 2-4 jam. Setelah itu kadar mulai menurun, 24 jam setelah pemberian kadar dalam plasma hanya tinggal sekitar  5%. Masa kerja sekitar 15 = 24 jam. Metabolisme glibenklamid sebagian besar berlangsung dengan jalan hidroksilasi gugus sikloheksil pada glibenklamid, menghasilkan satu metabolit dengan aktivitas sedang dan beberapa metabolit inaktif
Indikasi
Diabetes mellitus pada orang dewasa, tampa komplikasi yang tidak responsive dengan diet saja.
Dosis
Dosis awal 1 kaptab sehari sesudah makan pagi, setiap 7 hari ditingkatkan dengan ½ – 1 kaptab sehari sampai control metabolit yang optimal tercapai. Dosis awal untuk orang tua 2,5 mg/hari. Dosis tertinggi 3 kaptab sehari dalam dosis terbagi.
Pabrik
INDOFARMA (Bekasi – Indonesia)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar